Saturday, December 02, 2006

KETIKA

Bandung, 2 Desember 2006

ketika hujan mulai menderas
ketika itu lah aku sadar
sederas rinai hujan yang turun
adalah cintaku padamu

Thursday, November 23, 2006

Di Bawah Matahari Bali
[done on Monday, 20 November 2006]

Kana mengamati butiran pasir yang terselip di sela jari kakinya. Pasir itu terasa hangat. Baru pukul empat sore lebih sedikit, matahari belum turun di pantai ini. Kana menikmati sinarnya yang hangat, ia tak peduli teriknya akan menghitamkan kulit. Liburan. Begitulah yang ada dalam pikirannya saat itu. Tiba-tiba Kana merasakan jemarinya digenggam. Damar. Kana tersenyum dalam hati. Akhirnya ia bisa juga berjalan menyusuri pasir pantai Kuta bersama laki-laki itu. Tak banyak yang diinginkannya, hanya menikmati matahari yang tenggelam dan langit senja yang indah di pantai bersama Damar. Pantai mana pun, Kana tak peduli, asalkan bersama Damar.

Kana dan Damar duduk di atas pasir, tepat di depan matahari. “Do’aku terjawab sudah” ujar Kana dalam hati. Sebelum berangkat, Kana hanya meminta satu hal. Ia ingin berjalan menyusuri pantai, lalu duduk memandangi matahari yang terbenam dengan Damar di sisinya. Kana merasakan melankoli yang aneh dalam hatinya. Menikmati senja di pantai bukan lah sesuatu yang bisa dilakukannya setiap hari, apalagi dengan Damar di sisinya.

Matahari masih bersinar terik, tapi hati Kana terasa sejuk. Andai saja mereka bisa seperti itu setiap hari. Tapi mereka tak bisa seperti itu setiap hari. Karenanya, Kana merekam momen senja itu baik-baik dalam memori otaknya. Setiap detik adalah harta yang berharga. Kana tak ingin kehilangan satu detik pun.

Matahari yang terbenam itu indah. Tapi kebersamaannya dengan Damar jauh lebih indah. Kana tak ingin menukarnya dengan apapun. Kana tak ingin bertukar tempat dengan siapapun.

“Look, honey… it’s so romantic…” bisik Damar sambil memeluk Kana dari belakang. Berdua mereka memandangi langit yang jingga keunguan. “Yeah… it is…” sahut Kana. Senja itu memang terasa sangat romantis. Karena Damar ada di sisi Kana. Keduanya tak terlalu banyak bicara satu sama lain. Hati mereka yang bicara lebih banyak. Kana mendengar seruan hati Damar setiap saat, “I love you…”. Kana merasakan Damar mengecup punggungnya lalu memeluknya lebih erat lagi. Kana memejamkan matanya. Ia tak ingin berpisah lagi dari Damar. Bahkan berpisah beberapa hari saja sudah terasa seperti terlalu lama baginya. Tapi Kana tak pernah berani menggantungkan harapannya terlalu tinggi. Hari ini saja. Untuk hari ini saja. Begitulah yang diajarkan Damar padanya. Hiduplah untuk hari ini saja. Lakukan semuanya untuk hari ini saja. Sebenarnya hal itu sangat bertentangan dengan pola pikir Kana yang terbiasa panjang dan terorganisir, penuh dengan segala macam tindakan prevensi, rencana A, B, C sampai Z. Namun Kana merasa, tak ada salahnya jika dalam satu-dua hal ia mengikuti pola pikir Damar.

“Mau cari orang lain?” tanya Damar. Kana menggeleng dalam pelukan Damar. “Tambatan terakhir?” tanya Damar lagi. Kana mengangguk. Tambatan terakhir. Hati Kana sedikit tersayat mendengarnya. Ia selalu berharap setiap laki-laki yang singgah dalam hidup beberapa tahun terakhir ini adalah tambatan terakhirnya. Jiwanya yang telah lelah berlayar sangat ingin berlabuh. Namun sayang, semua lelaki itu tidak menjadikannya tempat parkir. Kana hanya jadi shelter. Tempat pemberhentian sementara, bukan tujuan akhir. Maka hatinya diliputi sedikit ragu ketika mendengar Damar bertanya. Akankah…? Kana hanya bisa berharap dan mengusahakan yang terbaik. Kana hanya bisa berharap dirinya cukup baik untuk Damar. Besok Damar pulang. Kana masih harus tinggal sehari lagi di Bali karena mereka tidak berhasil mendapatkan jadual kepulangan yang sama. Kana merasa ada sesuatu yang mulai hilang dalam dirinya. Ia akan sendirian besok. Tak ada Damar. Kana sendirian. Hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam ini. Sama seperti ia menikmati setiap detik kebersamaan mereka di tepi pantai sore tadi.


Kana duduk sendirian di teras Black Canyon Coffee. Teras itu menghadap langsung ke laut. Pantai masih sepi. Baru pukul duabelas siang. Masih terlalu terik untuk berjemur. Kana membiarkan angin mempermainkan rambutnya yang terurai. Aroma laut tercium. Kana menghirup dalam-dalam aroma yang menguar di sekitarnya. Aroma laut adalah aroma kedua yang disukainya. Aroma pertama yang disukai Kana adalah bau tanah dan udara basah sehabis hujan.

Alam terlihat tenang. Hanya ada debur ombak di kejauhan yang membuih putih. Kana menikmati suasana itu, tapi hatinya kosong. Kana sendirian. Tak ada Damar di sisinya. Tentu semuanya akan jauh lebih indah jika laki-laki itu ada di sisinya saat ini. Kana kesepian di tengah keramaian. Sedikit menyesal karena tak membawa laptop-nya, Kana melewatkan waktu makan siangnya sambil membaca. Tapi pikirannya sulit fokus pada bukunya. Pemandangan yang indah, hembus angin laut yang sejuk, lagu-lagu mellow yang mengalun di kafe dan kesendirian yang dirasakannya membuat pikiran Kana terpecah. Antara kesepian, rindu dan nikmat. Lagu-lagu yang diputar mengingatkannya pada Damar. Kana menghela nafas.
“You used to be a good friend to loneliness, Kana. Now, all the best that you can do is letting it come to accompany you here…” Kana bicara pada dirinya sendiri. Jiwanya hampa dan hatinya perih, tapi ia mencoba berkompromi dengan rasa sepi yang setia menemaninya. Hanya sehari ini saja, besok ia akan pulang dan bertemu lagi dengan Damar.

Setelah satu jam duduk di kafe itu, Kana memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai. Laut masih surut dan jauh. Kana berjalan di atas pasir padat yang basah. Pantai benar-benar sepi, hanya ada beberapa orang yang berenang saja. Andai saja pantai ini bisa selalu sesepi ini, tentu pengalaman kemarin akan terasa lebih dalam. Kana berjalan perlahan. Menikmati sapaan angin laut yang sejuk. Berbagai percakapannya dengan Damar berkelebat di rongga kepalanya.

“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? Seberapa besar?”
Kana menghela nafas dan berpikir, “Aku nggak mau menukar tempatku saat ini dengan siapapun.”
Damar tersenyum.
“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? How much?”
Ganti Damar yang menghela nafas, “Kalau ada laki-laki lain yang minta tukar tempat sama aku, pasti bakal aku gebuki!”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Mau cari orang lain?”
Kana menggeleng.
“Tambatan terakhir?”
Kana mengangguk.

Meski dengan sejuta ragu dalam hatinya, Kana tetap mengangguk. Bukan ragu atas keinginannya menjadikan Damar sebagai tambatan terakhirnya. Tapi ragu atas kemampuan Damar bertahan dengannya hingga benar-benar menjadi tambatan terakhirnya. Selama ini “tambatan terakhir” hanya menjadi mimpi semu bagi Kana.

Kana berdiri memandangi debur ombak yang berkejaran ke pantai. Membiarkan pikirannya lepas. Kana selalu merasa nyaman berada di dekat Damar. Laki-laki itu bisa memberinya rasa aman dan kebebasan pada saat yang bersamaan. Cintanya begitu besar pada Damar, sampai-sampai Kana sendiri tak tahu, seberapa besar sebenarnya rasa itu tumbuh dalam hatinya. Begitu besar dan begitu dalam terasa. Jauh melebihi apa yang pernah dirasakannya sebelumnya. Begitu besar dan dalam hingga Kana sering ketakutan. Takut jika suatu hari Damar pergi, ia tak akan lagi mampu bertahan sendirian. Kana menyadari dirinya lemah. Ia mempercayakan jiwanya yang rapuh pada Damar. Hatinya tinggal sekeping. Namun kepingan terakhir itu diam-diam telah ia berikan kepada Damar. Kana tak tahu apa yang akan terjadi seandainya Damar memutuskan untuk membuang kepingan itu jauh-jauh.

Semalam, Kana menghabiskan bermenit-menit untuk mengamati wajah Damar yang terlelap di sebelahnya. Pikirannya melayang jauh kembali ke beberapa tahun silam.

Kana duduk menghadapi komputernya. Kantor masih sepi. Baru ia dan office boy saja yang datang. Kana memang datang lebih pagi hari ini karena ada beberapa pekerjaan yang tidak tuntas dikerjakannya kemarin. Diperhatikannya layar komputer yang berpendar di hadapannya. Ketika Kana membuka situs pertemanan yang sedang naik daun, ia mendapati dua buah pesan di home page-nya. You have friend requests. You have new messages. Kana tersenyum sendiri. Ia selalu excited jika melihat indikator-indikator itu tercetak dengan huruf tebal. Kana meng-klik pilihan ‘you have friend requests’ lebih dahulu. Ada 2 orang yang memasukkannya ke dalam daftar teman. Yang seorang adalah Ira, temannya semasa SD dulu. Yang satu lagi bernama Damar. Kana tidak kenal. Kana memutuskan untuk melihat profil si pemilik nama ‘Damar’.

Ketika halaman utama profilnya terbuka, Kana mendapati foto yang terpampang adalah foto sekelompok anak Punk dengan dandanan ekstrim. Kana bahkan tak tahu, yang mana Damar. Ada beberapa foto yang di upload di halaman profil itu. Akhirnya Kana mendapati satu foto yang agak lebih jelas, walaupun tak terlalu jelas karena diambil dari samping. Hanya saja, laki-laki dalam foto itu berpose sendirian. Pastinya itu lah ‘Damar’. Kana mengamati uraian dalam profilnya. Sebenarnya tidak terlalu menarik. Biasa saja. Profil yang tidak diisi dengan kesungguhan hati. Bisa saja isinya hanya dusta belaka.

“Siapa sih ini… nggak jelas banget…” gumam Kana. Namun sejurus kemudian matanya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Hanya dua hal yang membuat Kana tertarik. Laki-laki itu menuliskan ketertarikannya pada penyakit adiksi pada kolom ‘interest’ dan tempatnya bekerja adalah sebuah LSM, Payung Jiwa. Kana tahu, beberapa teman baik suaminya juga bekerja di sana. ‘Suami’, betapa Kana ingin muntah ketika kata itu melintas di dalam rongga otaknya. Akhirnya Kana memutuskan untuk membiarkan laki-laki itu, Damar, atau siapapun namanya, untuk memasukkan dirinya ke dalam daftar temannya.

Kana kembali ke home page-nya untuk memeriksa, siapa yang telah mengirim email kepadanya. Ada 3 pesan. Dua pesan berantai yang tidak penting dan satu dari Damar. Kana membuka pesan dari Damar. Isinya hanya satu kalimat pendek.

Hai, boleh kenalan nggak? Mata kamu bagus…

Kana mencibir. “Standar banget!” Rutuknya dalam hati. Tapi tak urung pesan itu dibalas juga dengan tak kalah singkatnya.

Boleh.

Kana menekan pilihan ‘send’.

Dua tahun yang lalu. Dua tahun yang singkat. Ada masa-masa di mana Kana tak pernah merespon SMS, email ataupun ajakan chatting Damar. Kana sibuk tenggelam dalam pekerjaannya untuk melarikan diri dari konflik pribadi dengan suaminya. Kana sedikit malas berhubungan lagi dengan Damar karena laki-laki itu dianggapnya ingkar janji ketika mereka akan bertemu. Kana hanya menagih janji Damar untuk meminjamkan bukunya. Tapi Damar tak datang. Katanya ia sakit, maka tak bisa datang. Kana kecewa, tapi tak bisa memaksa kalau memang Damar sakit. Setelah itu, Kana menghapus nama Damar dari daftar teman chatting di messenger-nya dan menghapus nomor telepon laki-laki itu dari daftar kontak di telepon genggamnya. “Buang jauh-jauh semua yang menyakiti dan mengecewakan kita.” Begitu pikir Kana saat itu.

Sampai pada satu titik, ketika namanya mulai terlupakan, Damar kembali menghubunginya.

Tuesday, 23 May, 2006 6:43 PM
Subject: how are you?
Message:
hi pa kabar nich? sehat keluarga? koq ga da beritanya? masih gawe di hotel bu? kapan chat lagi

Kana terkejut membaca surat elektronik yang masuk. Ia lupa menghapus Damar dari daftar temannya di web site. Bu. Damar sering sekali memanggilnya dengan sebutan ‘bu’, membuat Kana merasa jadi sangat jauh lebih tua dari Damar. Dan deretan pertanyaan itu seperti interogasi saja. Tak ada cerita tentang dirinya sendiri. Tak ada sedikit jejak soal ke mana saja laki-laki itu pergi selama ini. “So typical of him.”, pikir Kana. Lalu ia menekan pilihan “Reply”

Tuesday, 23 May, 2006 6:43 PM
Subject: Re: how are you?
Message:
Kabar baik. Sorry aku sibuk banget di kerjaan. Kamu juga sibuk banget ya? masih di sukabumi? Eh, ntar kalo aku mau bikin acara buat hari AIDS, bantuin ya… Nomer HP kamu berapa sih?

Kana menekan pilihan “Send”

Dua hari sudah berlalu ketika Kana tiba-tiba melihat indikator New Messages di komputernya. Dibukanya kotak masuk. Damar. Lagi.


Thursday, 25 May, 2006 9:37 AM
Subject: Re: how are you?
Message:
ga juga sich..baru aja pindahan dari sukabumi sekarang gw di promote jadi program manager harm reduction.. ok boleh gw mo bantu koq..
dah lupa ya non hp gw???? 08562193767Gmn anak lu sehat2? hp lu berapa? thanks..Best regards damar

HP lu berapa? Kana tersenyum. HP-ku ada dua. Gumamnya dalam hati. Kana mencatat nomor telepon genggam Damar, setelah itu Kana kembali tenggelam dalam pekerjaannya dan lupa membalas email Damar.

Tiga hari setelah itu, Kana mendapat pesan. Mantan suaminya, yang kabarnya belakangan ini sakit-sakitan, mengirim SMS. Isinya singkat saja. Kana dan anaknya diminta melakukan tes HIV, karena Adi, mantan suami Kana, positif mengidap HIV. Kana geram. Sebelum mereka menikah, Kana sudah pernah menanyakan pada Adi apakah ia sudah pernah menjalani tes HIV. Adi menyatakan dirinya negatif, tapi ia tidak bisa memperlihatkan hasil tesnya. “Hilang”, hanya begitu alasannya. Dan Kana percaya. Kana menanggapi SMS itu dengan dingin, namun otaknya berputar dengan cepat. Kana segera mengatur jadual tes untuk ia dan anaknya di sebuah rumah sakit. Dua hari kemudian Kana menghadapi kenyataan bahwa dirinya juga positif. Anehnya, Kana tak merasa galau. Mungkin ia terlalu lega karena anaknya negatif. Kana memendam semuanya sendiri. Hal berikutnya yang ia lakukan adalah mengirim SMS kepada Adi untuk memberitahukan hasilnya, dan meminta Adi menjauhi dirinya, anaknya dan rumahnya. Kana benar-benar tak mau ada urusan lagi dengan laki-laki itu.

Akhirnya Kana memang memutuskan untuk memberitahu fakta tersebut kepada beberapa orang sahabat terdekatnya. Mereka semua tercengang melihat ekspresi Kana yang dingin saat bercerita. Seolah-olah apa yang menimpanya adalah sesuatu yang sangat biasa. Tak ada yang tahu, betapa hati Kana koyak. Namun ia merasa, kemarahan bukan lah penyelesaian.

Hampir satu bulan kemudian Kana mendapati nama Damar di kotak surat elektroniknya lagi. Kana merasa sedikit excited membaca nama Damar pada kolom pengirim. Kana tahu, tak akan ada cerita. Hanya akan ada pertanyaan-pertanyaan saja. Damar tidak pernah bercerita panjang lebar dalam email-nya. Semua selalu pendek-pendek dan terdiri dari beberapa pertanyaan saja. Sedikit membosankan. Tapi Kana ingat, saat mereka chatting, Damar sering bercerita macam-macam. Hanya saja semuanya berkisar pada urusan adiksi. Mereka melewati perdebatan soal adiksi. Damar mengatakan adiksi adalah penyakit. Kana tidak setuju, menurutnya adiksi adalah termasuk masalah manajemen behaviour. Damar mengatakan bahwa adiksi itu genetis, ada faktor bawaan. Kana tidak setuju, karena Kana tidak pernah merasa kecanduan atas benda apa pun kecuali rokok dan teh botol. Damar mengatakan bahwa sekali jadi pecandu, maka seseorang akan terus jadi pecandu seumur hidupnya. Kana tidak setuju, menurutnya kecanduan bisa dihentikan dan tidak berlangsung seumur hidup. Banyak sekali hal yang mereka perdebatkan di jalur chatting. Tapi itu tak berlangsung lama. Kana sedikit demi sedikit mulai mengurangi frekuensi chatting-nya dengan Damar. Sering Kana tidak membalas sapaan Damar di jalur chatting. Dan finalnya adalah Kana menghapus nama Damar begitu saja dari daftar teman chatting di messenger-nya.

Wednesday, 14 June, 2006 3:34 PM
Subject: apa kabar?
Message:
hey gimana nich kabarnya???? btw no hp lo dah ganti ya??? no yg sekarang berapa?? lu sehat2 aja??? regards damar

Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Kana karena tak membalas email sebelumnya. Maka ia segera menekan pilihan “Reply”. Kana memutuskan untuk menceritakan keadaannya pada Damar. Entah kenapa, ia sendiri tak tahu. Ia hanya merasa Damar orang yang tepat. Itu saja. Padahal Kana belum pernah bertemu dengan Damar. Rencana mereka untuk bertemu telah gagal dua tahun yang lalu, dan setelah itu mereka hilang kontak sampai bulan lalu Damar mengiriminya email. Kana hanya mengikuti intuisinya saja. Damar mungkin orang yang tepat untuk diajak berbagi dalam urusan ini. Mungkin.


Wednesday, 14 June, 2006 3:34 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Kabar nggak terlalu baik, aku positif kena HIV, ketularan mantan suamiku. alhamdulillah anakku negatif. Hp-ku 0811223322. kabar kamu sendiri gimana?

Kana menekan pilihan “Send”. Hatinya sedikit bimbang. Kana tidak tahu apakah tindakannya bercerita pada Damar adalah hal yang tepat atau bukan. Tapi yang jelas, Kana merasakan ada sedikit kelegaan menyeruak di antara bilah-bilah hatinya yang sedang gelisah. Satu beban setidaknya telah mulai terlepas. Itu baik untuknya. “There’s no turning back” batin Kana. Email itu telah terkirim dan tidak bisa dibatalkan.

Esoknya, Kana mendapati jawaban dari Damar telah bertengger di kotak masuknya. Dan ketika pesan itu dibacanya, seperti biasa, tidak semua pertanyaannya dijawab oleh Damar. Laki-laki itu malah balik bertanya padanya.


Thursday, 15 June, 2006 12:34 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Mantan??? Lu cerai??? Kapan??? why????Lu ga sendirian koq....alhamdullilah anak lo ga pa2....tapi lo juga ga pa2 koq asal terus jaga kesehatan dan check ur condition...kalo mo share lu bisa telp gw koq..anytime...lu punya komunitas kalo mo gabung... Regards damar

Kana menghela nafas. Ia tahu, ia tidak sendirian. Tapi ia tak ingin bertemu dengan orang-orang yang notabene senasib dengannya. Belum ingin. Mungkin suatu saat nanti ia mau. Kana sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, saat ini ia tidak ingin bertemu dengan orang-orang itu. Baginya tak ada gunanya bertemu dengan mereka, “Paling-paling cuma sekumpulan orang depresi doang…” batin Kana dalam hati. Kana memutuskan untuk membalas surat elektronik Damar.


Thursday, 15 June, 2006 1:15 PM
Subject: Re: apa kabar
Message:
Iya, aku udah setaun yang lalu cerai. Nggak cocok lah. Biarin aja. Aku rasa ini yang terbaik buat semua. Tapi sekarang aku udah punya cowok lagi sih…. Mudah-mudahan cocok. Hehehehehe….

Kana menekan pilihan “Send”.

Esoknya Kana kembali mendapati balasan dari Damar sudah menduduki peringkat teratas di kotak masuknya. Pesan itu ditulis pada malam sebelumnya.


Thursday, 15 June, 2006 7:46 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Cepet bgt dapet gebetan barunya hehehehehehehe baru juga mo daftar wuakakakakakakakakak.......... ya udah enjoy ur life..... regards damar

Kana tersenyum sendiri membaca pesan dari Damar. Baru juga mau daftar. “Memangnya dia pikir aku buka praktek, sampai harus daftar segala!” ujar Kana dalam hati.

Dua tahun lebih sudah berlalu. Dua tahun sejak email pertama yang dikirimkan Damar padanya. Dan sekarang laki-laki itu terbaring lelap di sampingnya. Kana tak pernah berpikir bahwa akhirnya ia akan berbagi tempat tidur dengan Damar.


Buih air laut yang menyapa ujung jari kakinya menyadarkan Kana dari lamunannya. Entah sudah berapa lama ia berdiri tertegun di pantai itu sendirian. Mungkin sudah cukup lama. Kana memutuskan untuk meneruskan perjalanannya menyusuri pasir di pantai itu. Sendiri. Kana berjalan sedikit bergegas. Ia ingin segera tiba di hotel untuk beristirahat sejenak. Menjelang senja nanti Kana berencana untuk pergi lagi ke pantai sendirian. Menikmati senja terakhir di Bali. Sendirian.
Setelah beristirahat selama beberapa jam, Kana memutuskan untuk kembali pergi ke pantai. Senja di pantai Kuta tak sama rasanya karena tak ada Damar. Keindahannya seolah berkurang. Tak terasa magis. Begitu hampa. Kana berusaha menikmati sebisanya. Namun sudah terlambat, karena ia tak lagi bisa merasakan keindahan senja itu sendirian sekarang. Segalanya terasa tak sempurna. Kana bahkan tak mau mendekat pada pasir dan pantai. Kana hanya duduk di teras Circle K sambil menikmati segelas Ice Capuccino yang rasanya tidak enak. Kana merasa hatinya pasti akan robek jika ia mendekat pada pasir dan pantai seperti kemarin. Kana tak mau menangis sendirian di tepi laut yang ramai. Maka ia memilih comfort zone yang cukup jauh dari pantai, namun tetap bisa menikmati matahari yang tenggelam dan langit sore yang berwarna jingga semu ungu.

Menjelang malam, Kana pergi ke Starbucks Coffee untuk segelas Iced Grande Hazelnut Latte kesukaannya. Ia merasa harus membayar rasa Ice Capuccino yang tidak enak sore tadi dengan segelas kopi dingin yang memang benar-benar layak untuk dinikmati. Untung kedai kopi itu terletak di seberang hotel tempat ia menginap. Tepat bersebelahan dengan sebuah diskotik dan kafe yang mengusung musik-musik berirama reggae. Suasana memang gaduh, namun Kana merasa nyaman. Kana memang suka memperhatikan sekelilingnya. Di mana pun ia berada.

Kana mengamati orang yang lalu lalang di jalan yang sudah mulai ramai. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Klab-klab dan kafe-kafe sudah mulai ramai dikunjungi orang. Musik yang berdentam dari Bounty meretas malam. Kana berhenti menulis sejenak untuk menyalakan rokoknya. Rasa sepi tiba-tiba menyusupi relung hatinya menggantikan rasa nyaman yang sebelumnya bersarang. Di tengah hingar-bingar musik yang dimainkan dan di tengah ramainya orang yang mulai mencari hiburan malam, Kana merasa sendirian. Ia memang sendirian. Kana rindu pada Damar. Kana memutuskan untuk berhenti menulis. Selain baterai laptop-nya sudah hampir habis, menulis dalam keadaan rindu tidak akan menghasilkan tulisan yang bagus. Itu menurut Kana. Maka Kana beralih pada bukunya. Namun membaca dalam keadaan seperti itu juga membuat Kana tidak dapat fokus pada apa yang dibacanya. Akhirnya Kana menutup bukunya dan mulai menikmati kopinya sambil merokok dan memperhatikan jalan di hadapannya.

Kana ingin malam cepat berlalu agar esok segera tiba dan ia bisa segera terbang pulang. Bertemu lagi dengan Damar. Kana merasakan waktu berjalan sangat lambat. Ia menangis dalam hati karena merasa jiwanya begitu kosong. “Hold it Kana. Just one more day… it’s not even a day, just a few hours more…” Kana mencoba menghibur dirinya sendiri. Namun tak urung Kana merasakan bola matanya menghangat. Kana merasakan kehampaan bercampur rasa takut mulai mengisi hatinya. Takut ia terlalu tergantung pada Damar. Takut ia tak bisa berdiri sendiri jika Damar tak ada. Takut ditinggalkan. Takut. Takut. Takut. Dan takut.

Kana tidak tahu, kapan rasa takut itu sebenarnya mulai muncul. Ia hanya baru sadar saat itu. Kana merasa sangat lemah. Dan ia tidak terlalu suka dengan rasa itu. Dulu, Kana selalu sendiri. Ia berteman baik dengan rasa sepi dan kesendirian. Ia selalu bisa menikmati momen-momen kesendiriannya. Namun sekarang Kana merasa sulit sekali untuk bersahabat dengan kesendirian dan rasa sepi. Entah kenapa. Mungkin karena sekian lama ia selalu memiliki Damar yang dengan setia menemaninya. Damar yang selalu mau mendengarkan keluh kesahnya. Damar yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Tatapan yang kadang membuat Kana salah tingkah.

Akhirnya hari itu datang juga. Hari Minggu. Hari di mana Kana akan terbang pulang menemui Damar. Kana mengamati landasan pacu yang berbatasan dengan laut dari jendela Smoking Lounge Ngurah Rai International Airport yang terletak di lantai dua. Pemandangan itu tak setiap hari bisa ditemuinya. Kana senang melihat pesawat-pesawat yang bergantian mendarat dan lepas landas. Sepertinya ia merasa akan selalu rindu pada pulau itu. Entah kapan ia akan bisa kembali lagi. Dengan Damar tentunya. Menunggu sendirian bukanlah sesuatu yang terlalu menyenangkan untuk dilakukan, namun Kana tak punya pilihan lain. Ia harus sendiri sampai tiba di Bandung nanti.

Setelah hampir satu jam terlambat, akhirnya Kana naik juga ke pesawat yang akan membawanya pulang. Tempat duduknya tepat di pinggir jendela. Dari situ Kana bisa melihat laut yang menjauh ketika pesawat mulai bergerak. Potongan percakapannya dengan Damar berkelebat di kepala Kana.

“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? Seberapa besar?”
Kana menghela nafas dan berpikir, “Aku nggak mau menukar tempatku saat ini dengan siapapun.”
Damar tersenyum.
“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? How much?”
Ganti Damar yang menghela nafas, “Kalau ada laki-laki lain yang minta tukar tempat sama aku, pasti bakal aku gebuki!”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Mau cari orang lain?”
Kana menggeleng.
“Tambatan terakhir?”
Kana mengangguk.

Kana memasang kaca mata hitamnya dan memandang landasan pacu yang terlihat seolah menjauh. Saat pesawat terasa terangkat, Kana melempar pandangan terakhirnya ke luar. Ke laut dan pantai yang semakin jauh.

“Damar…. Aku pulang….”


Some people want it all, but I just don’t want it at all
if I ain’t got you, baby…
Some people want diamond ring, some just want everything
Everything means nothing if I ain’t got you…

[If I ain’t got you – Alicia Keys]


- Una Partum Finite Incantotum -

Wednesday, November 22, 2006

Outside the rain begins, and the dusk is getting older as the day grows darker. She sits at the roof top, letting herself drawn in the cool and rainy weather. Under the orange sky of the city. She wipes her tears in despair. Her wish is nothing but a simple thing. But it is too simple that it seems to be impossible to come true. Sometimes complicated things are more likely to come true. She only wants to have someone by her side. She is drawn in her own desperacy. Her life seems to be ended very soon, but still there is no words.

She has made up her mind. She will be no longer waiting in vain and despair. She sees no future anymore. Not for her. Not for him. Not for them together. So, when the pain is getting worse, that is the right time to let go. Because she believes that letting go is the only way out for the situation.

The sky above her is glistening. The rain apparently had stopped a minute before. But the mist of it still lingers around her, gave her a gentle wet touch. She feels her heart beats slower. Beats in vain, for she has no one to come home to. No one to turn herself to. Worthless, is the word that she has been telling herself lately. Worthless and unwanted. It has been several times she tried to convinced herself that someone out there might be her knight in shining armour, but later on, she never find anybody would come closer.

Monday, November 20, 2006

Dusk in Kuta, 17 November 2006

It is the bonus of the hard work. Finally, a time on our own. We went out to Kuta beach this late afternoon to catch the sight of sunset. How I long to see the sunset on the beach, any beach! So, we strolled along the Legian street up to the beach and found the perfect spot to wait for the sun to set. This is my dream. Sitting on the beach sand with him by my side, watching the beautiful sun sets, surrounded by a magnificient orange coloured sky. It’s a simple thing that I can’t get everyday. My wish is granted today. So, I really treasure the moments with him. Feel myself in his arm, let the sea breeze play with my hair and smell the salty air around me.

I’m so happy to have his companion today…

I packed my simple dreams along with me when I flew from Bandung. I just want a day with him at the beach, sitting and talking about many things while watching the sun set. I don’t need other things. Just that one. A simple romantic dream that finally come true.

It’s a joyful moments to see his glistening face is full of smile. He seems to be happy sitting close to me, and so do I. We never know when we will have a chance to do it once again. Too bad he has to leave tomorrow. So, it’s really the answer to my pray. I ask for a day with him at the beach, that’s what I got. I’m very grateful that I still have the chance. I’m sure we will come together again some other time.

Black Canyon Coffee, 18 November 2006

I dropped him at the airport and bid him goodbye. I went to the Discovery Mall and had my hair done there. Afterwards, I went to have some coffee and salad at the Black Canyon Coffee.

I’m sitting all alone at the terrace, looking out to the beautiful scenery of Kuta beach. It’s rather quiet at this hour. The sea breeze kissed me. The back sound music is depressing and makes me wishing so hard that he’s here with me right this very moment. I used to enjoy myself for being alone, but it’s like centuries a go. I feel like déjà vu, finding myself sitting alone with a cup of coffee and a book in my hand.

After an hour or so, I decided to stroll along the sandy beach to the Poppies Lane to find some nice sarongs that I saw yesterday. It’s somehow nice to stroll along the quiet beach alone. It feels free. I’m a solitaire. Yes, I miss him so much. Yes, I wish him to be here next to me. But walking alone under the friendly sky, feeling the wind blows over my hair is also nice, especially when the beach is not too crowded yet.

Looking out to the sea, suddenly I feel so vulnerable and fragile. I need him so bad. I need his arms around me because that’s the only way that I could feel safe.

Monday, November 13, 2006

Thought of three of you when I read this:

"Courage, it would seem, is nothing less than the power to overcome danger, misfortune, fear, injustice, while continuing to affirm inwardly that life with all its sorrows is good;
that everything is meaningful even if in a sense beyond our understanding;
and that there is always tomorrow."
(Dorothy Thompson)


Read it over and over again... The meaning is so strong... Just like us... hehehe...
-- Frika Chia
Low motivations....

Tuesday, August 08, 2006

HARI-HARI TERAKHIR DI ASTON BANDUNG

nggak tau kenapa, hari ini gue kok mellow banget rasanya. dengerin lagunya iwan fals aja mata gue langsung panas. dengerin samsons jadi kasuat-suat. dengerin kerispatih juga rasanya nggak puguh. dengerin lagunya ungu juga rasanya ngelangut banget. semua lagu kayaknya nggak ada yang asik buat didengerin. semua lagu rasanya jadi very very touchy termasuk lagu-lagunya 311, metallica, creed dan yang lain-lain [jadi maneh teh sabenerna rek resign atawa patah hati, ra???].

i know i'm gonna miss all of my friends here. my sales team [especially]. walaupun gue nggak pindah ke luar kota, tapi semua kegilaan yang pernah kita lewatin bareng nggak bakalan bisa tergantikan. gue yakin, di tempat baru gue nanti juga bakalan banyak kegilaan lain, tapi everything will never be the same. anehnya, gue baru 7 bulan gawe di sini, tapi rasanya gue berat banget ninggalin tempat ini. padahal dulu di tempat sebelumnya gue udah gawe 5 taun, tapi pas pindah gue biasa-biasa aja. mungkin karena temen-temen satu tim gue di sini jauh lebih kompak dan solid. ngapa-ngapain kita bareng. kemana-mana bareng. makan siang selalu bareng. dimarahin bareng. mencak-mencak juga bareng. pokoknya selalu bareng-bareng deh. that is one thing that i didn't get in my previous company.

anyway, life goes on. the show must go on. i've made my choice and i believe it's for my own good. it wasn't an easy thing to choose, but i did, so i must commit. i've always wanted to get a job in a new field, i'm kind of tired running around in the same field all these times.

well, guys... it's been one hell of a crazy semester with all of you. i know that it will draw a smile on my face whenever i remember it. those crazy days, those insanities, those mental actions, those weird jokes we made to each other, those nicknames, those dirty conversations and harassments, bloody insane people that worked together in one office area.

i'll miss you guys...

Nenon - the most weird and dangerous secretary i've known for life! a walking - warning for everyone: never abuse the secretary! because she can do anything deadly to you, like stirring the coffee with a pen or marker!

Like - the rebellious senior sales manager who will definitely argue over everything, including the smallest and the most unimportant things ever!!!

Irawan - the most [forced to be] calm sales manager who hates to have the 'golden boy' nickname given by others, merely a newcomer and always got harassed by others [newcomers always got harassed, don't they...? it's the rules]

Reza - the crazy sales executive and an ex-golden boy of the year who loves to harass Diana wholeheartedly every day, a daily competitor for backsound music in the office, an expert of the craziest idioms of the day

Diana - the most harrassable sales executive who needs to upgrade her inner PC from Pentium II to Pentium IV in order to catch up all the jokes and harassments in the office [no hard feelings, Di...]

Sherleena - our beloved sidekick from the reservation who is always willing to join the crowd for lunch, cigarettes and harassments

jadikan aku kenangan terindah dalam hidup kalian ya.... [Samsons bangaaaaat....]

Monday, August 07, 2006

love is blind... or is it?
love is blind but it can see in the dark.... or can it?

Thursday, August 03, 2006

life is bitter. but it's not bitter enough to make my time get sour. I've been asking myself so much about life. did I live it to the fullest? did I live it low? was I? do I?
am I happy with my life?
I might be...
could be...
should be...












aku, dirimu, dirinya
tak akan pernah mengerti
tentang suratan

aku, dirimu, dirinya
tak resah bila sadari
cinta tak 'kan salah

[cinta tak 'kan salah - kahitna]

Tuesday, August 01, 2006

Dari sudut kota ini
aku memandangi langit senja
Awan menyembunyikan wajahmu
di balik gulungannya
Setiap waktu
yang terlewati tanpamu
adalah sepi
Setiap saat
yang terlalui denganmu
adalah cahaya mentari
Canda yang terurai di antara kita
tak akan terganti
Semua yang mengalir tanpa tujuan
adalah murni
Semua yang mengalir tanpa rencana
adalah jujur
Maka biarlah semuanya
seperti ini saja
Murni dan jujur
Tanpa campur tangan logika
telah 'ku biarkan hati ini melarut
bersama redup senja
telah 'ku biarkan jiwa ini meranggas
bersama dedaun yang jatuh ke bumi
telah 'ku biarkan tangis tak lagi terjatuh
karena aku mengikhlaskan jiwanya
yang memilih untuk pergi bersama benaman mentari
yang memilih untuk tersesat dalam ketidakpastian

Thursday, July 27, 2006

yang 'ku mau ada dirimu
tapi tak begini keadaannya
yang 'ku mau selalu denganmu

jika Tuhan mau begini
robahlah semua
jadi yang 'ku mau
karena 'ku ingin semua berjalan
seperti yang 'ku mau


[yang 'ku mau - krisdayanti]

Tuesday, July 25, 2006

hanya puing-puing harap yang tersisa dalam hati
terserak bagai rongsokan tak berarti
bukan aku tak lagi mau mengharap
tapi harap tanpa kenyataan
hanya menumbuhkan kecewa

Thursday, July 13, 2006

NADINE CHANDRAWINATA

Hari ini gue dan teman-teman sekantor dikirimi email yang isinya rekaman wawancara Nadine Chandrawinata dalam bahasa Inggris. Karena nggak semua komputer dilengkapi dengan loud speaker, maka kami berkumpul di satu meja dan menonton rekaman itu rame-rame. And guess what...? Sebagai Puteri Indonesia yang tugasnya mewakili negara di ajang-ajang internasional, bahasa Inggrisnya jauh dari sempurna. Ternyata motto "Beauty, Brain, Behaviour" sepertinya nggak terpenuhi secara menyeluruh. Banyak banget lack of grammar and vocabs yang [menurut kami] kebangetan. Puteri Indonesia gitu lohhh...!!! Seharusnya dia tampil nggak cuma cantik fisiknya, tapi bahasanya pun seharusnya tanpa cacat cela!
Saat disodori pertanyaan "Who is your idol?"
Nadine menjawab "My admirer is Mother Theresa"... MY ADMIRER??????? emang dia siapa dan Mother Theresa itu siapa....?
Kosa kata lain yang nggak kalah parahnya adalah saat dia menjawab, "Indonesia is a big city..." WHAT??????
Maka gugurlah semua kekaguman untuk seorang Nadine Chandrawinata. Lain kali, mendingan wawancaranya pakai bahasa Indonesia aja dan didampingi seorang translator aja deh... seperti yang dilakukan finalis Miss Universe dari beberapa negara.

Thursday, July 06, 2006

kenapa ya... orang yang paling dekat sama gue, yang paling gue harapkan support-nya, kok malah nggak mau ngasih ketenangan buat gue.... kadang dengan keadaan yang seperti ini, gue ngerasanya gue itu nggak worth it. nggak layak untuk dapet apa-apa... sampai-sampai rasa tenang pun orang nggak mau ngasih buat gue... padahal yang gue minta sederhana banget... komunikasi. tapi ternyata di dunia sekarang ini, hal sesederhana itu pun udah jadi barang langka yang mahal banget harganya...
feeling so low and unworthy...
kenapa sih, kamu suka banget bikin aku ngerasa dicuekin...? berkali-kali kamu minta maaf karena hal itu, tapi selalu aja diulangi. aku jadi nggak tau lagi harus gimana... sabar aja kali yee...? tapi sampai kapan dong....?

Tuesday, July 04, 2006

The love that comes eventually,
is the one for eternally...

my love for you came eventually,
not instantly...
but it surely for eternally...

thank you for being the best part in my life, honey....

Wednesday, June 28, 2006

menunggu adalah pekerjaan paling menjemukan. tapi aku tak punya pilihan lain selain menunggumu datang kepadaku. entah kapan... yang jelas, aku percaya pada semua janjimu. bahwa kau akan kembali padaku, apapun keadaanku.
[when missing someone isn't the sweetest part of life]
send me a lover, someone to believe in
please, send me someone that I can hold
send me a lover, a new beginning
someone to take away the cold
and give me back what I've been missing
all the love that lies away inside your heart
[send me a lover by taylor dane]

Tuesday, June 20, 2006

aku sudah muak berada di antara orang-orang munafik ini. kejujuran dan sportifitas sudah mati, aku dengar mereka dikuburkan hari ini di dasar jurang kebohongan dunia yang terdalam...

Wednesday, June 14, 2006

SALAH, MENGAKU SALAH, INTROSPEKSI DIRI, dan MINTA MAAF

kenapa ya, orang kok sulit sekali mengakui kesalahannya? apalagi kalau posisi dalam pekerjaannya lebih tinggi dari kita. ada ego yang bicara. banyak juga gengsi yang buka mulut. tidak mau ketahuan salah oleh bawahan. padahal, atasan yang sportif dan mau mengakui kesalahannya pasti akan jadi idola bawahan [dijamin!].
bukan hanya mengakui kesalahan yang sulit. menerima bahwa kita salah juga bukan hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang. lebih dari itu, minta maaf merupakan hal yang paling berat untuk dilakukan. kadang gue pengen ketawa, lihat orang-orang yang self defense-nya tinggi saat kesalahan dilempar ke muka mereka. kalau emang salah, ya salah aja. apa susahnya sih, berbesar hari dan berlapang dada untuk mengakui semua itu? justru orang akan jadi lebih respek kalau kita mau mengakui kesalahan kita. salah kan nggak selalu dosa. salah adalah sarana untuk belajar dan memperbaiki diri.
gue selalu senang kalo ada orang yang nunjukkin kesalahan gue [selama itu memang benar gue yang salah]. gue berterima kasih banget sama orang yang mau ngasih tahu gue itu. karena, kalau nggak atas jasa orang itu, mana bisa gue memperbaiki diri? susahnya, gue juga selalu pengen nunjukkin atau ngingetin orang atas kesalahannya. dan payahnya, banyak yang nggak suka dengan kelakuan gue ini. hehehehehe. ironis banget! padahal maksud gue baik, pengen mengingatkan aja. tapi ternyata di dunia ini masih banyak orang yang nggak bisa berbesar hati dan berlapang dada. buntutnya, malah gue yang dicaci maki deh... nasib... nasib...!
gue paling nggak suka kalo ada orang yang udah jelas-jelas salah, tapi dia masih ngotot bahwa dia nggak salah. apalagi kalo ditambah dengan usaha-usaha untuk mencari kambing hitam. duh... apa nggak bisa cari cara lain yang lebih asik ya...? apa kabar dengan INTROSPEKSI DIRI? kayaknya udah sulit banget nyari orang yang mau introspeksi diri sebelum melemparkan kesalahan ke orang lain. menurut gue, hal yang ideal ketika kita mau melemparkan kesalahan kepada orang lain adalah : NGACA. lihat baik-baik ke dalam diri kita sendiri... apakah kita memang lebih baik dari orang itu? apakah kita nggak pernah bikin kesalahan sepanjang hidup kita? apakah kita nggak pernah jadi korban lemparan kesalahan orang lain? apakah kita udah sebegitu sempurnanya tanpa cacat dan cela, sampai kita berhak melemparkan kesalahan ke orang lain?
sayangnya.... kebanyakan orang lebih suka melemparkan kesalahan ke orang lain dulu sebelum ngaca dan introspeksi. nanti buntut-buntutnya baru deh... ngerasa bahwa apa yang dilakukan itu nggak bener. masih bagus kalo mau minta maaf. kebanyakan orang bakalan diam aja. minta maaf seolah jadi sebuah pekerjaan hina yang merendahkan harkat dan martabat. so pathetic! permintaan maaf seolah tabu dikeluarkan, terutama kalo posisi, status atau jabatan kita lebih tinggi. duh... istighfar deh lu semua kalo masih suka bersikap kayak gitu...
BROWN EYES
Destiny's Child

Remember the first day when I saw your face
Remember the first day when you smiled at me
You stepped to me and then you said to me
I was the woman you dreamed about...

Remember the first day when you called my house
Remember the first day that you took me out
We had butterflies although we tried to hide it
And we both had a beautiful night...

The way we held each others hand
The way you talked, the way we laughed
It felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one...

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
When he stares at me you see he cares for me
You see how he's so deep in love...

I know that he loves me cause it's obvious
I know that he loves me cause it's me he trusts
And he's missing me if he's not kissing me
And when he looks at me, his brown eyes tell his soul...

Remember the first day, the first day we kissed
Remember the first day we had an argument
We apologised, and then we compromised
And we haven't argued since...

Remember the first day we stopped playing games
Remember the first day you fell in love with me
If felt so good for you to say those words
'Cause I felt the same way to...

The way we held each other hands
The way you talked the way we laughed
It felt so good to fall in love
I knew right then and there you were the one...

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
When he stares at me you see he cares for me
You see how he's so deep in love...

I know that he loves me cause it's obvious
I know that he loves me cause it's me he trusts
And he's missing me if he's not kissing me
And when he looks at me, his brown eyes tell his soul...

For my beloved brown eyed husband....

Tuesday, June 13, 2006

hari ini gue chatting sama temen gue, dan pertanyaan standar yang keluar dari keyboard-nya adalah "lu nggak takut waktu ngambil keputusan buat pisah?" hwarakadah!!! dari awal gue pisah dulu, semua orang nanyain pertanyaan yang sama, sampai pada suatu hari gue balikin ke temen-temen gue "ada pertanyaan yang lebih kreatif nggak?" huehehehehe....
takut? kenapa mesti takut kalau kita yakin itu adalah yang terbaik buat diri kita? sebenernya apa sih yang bikin cewek-cewek pada takut buat pisah dari suami? itu pertanyaan besar buat gue. bukankah kita semua berhak untuk bahagia? dan kalau kebahagiaan itu nggak bisa datang dari suami kita, apa iya harus dipaksain? gile aje! kalau kita udah usaha dan ternyata hasilnya nihil, apa iya mau maksain diri dengan denial seumur hidup? nggak bangeeeet! hidup itu harus jujur sama diri sendiri. kalau sama hati nurani sendiri aja kita udah bohong, gimana sama orang luar? hidup kita bakalan dipenuhi sandiwara-sandiwara yang mehe-mehe dan nggak penting.
gue sadar banget, menikah [yang pertama] adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidup gue. dan saat gue berusaha memperbaiki tapi nggak ada hasilnya, gue rasa, nggak perlu gue menipu jiwa gue dan berharap semuanya akan baik-baik aja.
mana yang lebih baik dan lebih masuk akal buat orang-orang yang waras:
nggak punya suami, tapi batin tenang
atau...
punya suami, tapi cuma nyakitin hati dan fisik aja...?
anak gue nggak punya bapak, tapi hidupnya dipenuhi kasih sayang
atau...
punya bapak, tapi tiap hari yang diliat cuma bapaknya marah-marah, ngeluarin kata-kata kasar, lempar-lempar barang dan mukulin ibunya...?
jadi janda, tapi bisa aktualisasi diri dan berkarya
atau...
punya suami, tapi cuma buat status aja, sementara fungsinya nggak dijalankan dengan baik...?
punya keluarga lengkap, tapi nggak ada cinta dan cuma topeng doang
atau...
jadi single parent, tapi jujur sama diri sendiri...?
jadi, buat semua temen gue yang mempertanyakan, keputusan gue nggak diambil secara emosional. gue melalui proses belajar dan berpikir yang cukup panjang sebelum akhirnya gue memutuskan untuk pisah. dan pada saat gue mantap dengan keputusan gue, yang namanya rasa takut nggak pernah mampir di dalam diri gue [dan memang dari sebelumnya pun rasa takut kagak pernah mampir ke gue.... hehehehe].
gue bahagia, bisa memutuskan untuk diri gue sendiri dan untuk anak gue.
gue bahagia, bisa jujur sama diri gue sendiri dan nggak larut dalam romantisme rumah tangga picisan yang hanya mentingin topeng aja.
gue bahagia, nggak harus terperangkap dalam sangkar pernikahan tanpa cinta yang palsu.
gue bahagia, nggak perlu merasa takut untuk hidup sendirian.
gue bahagia, nggak mempertahankan pernikahan gue hanya untuk menyenangkan hati orang lain semata.
biarlah matahari menghilang dari langitku hari ini, karena aku tahu itu hanya sementara...
tak ada yang pernah mengatakan bahwa menjalani hidup itu mudah. tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kesulitan dalam hidup hingga beban yang ada tak terasa terlalu berat.
hidup itu memilih. kita lah yang menentukan apakah kita ingin hidup kita ini terasa berat atau ringan. semua tergantung dari kita sendiri. kesedihan dan beban yang ada bukan untuk dihayati, tapi disikapi dengan bijak.
maka, beruntunglah mereka yang mampu memandang hidup ini dari sisi yang positif, karena kebanyakan dari kita memandangnya dari sisi sebaliknya. membuat kita lupa bersyukur atas berkah dan karunia yang kita terima setiap hari.

Monday, June 12, 2006

kangeeeeeeen.......
kadang gue benci sama rasa yang satu ini.....
soalnya bikin gue jadi nggak fokus kerja, nggak fokus ngapa-ngapain...

Wednesday, June 07, 2006

setiap kali habis berantem sama kamu... aku selalu kangen... selalu tambah cinta... huhh.... kenapa sih selalu begitu yaaa.....? hiks...
NOCTURNE
Sapardi Djoko Damono

I let the starlight possess you
I let the pale and ever-restless wind,
That suddenly changes into a sign, take you from me
I know not when I might have you
THE DAY WILL COME
Sapardi Djoko Damono

The day will come
When my body no longer exists
But in the lines of this poem
I will never let you be alone

The day will come
When my voice is no longer heard
But within the words of this poem
I will continue to watch over you

The day will come
When my dreams are no longer known
But in the spaces found in the letters of this poem
I will never tire of looking for you
AS I WAIT FOR YOU
Sapardi Djoko Damono

As I wait for you, kapok pods harden
With the peak of this barren dry season
A few junes only bloomed and wilted inside me
Which I carefully noted but silently let go

Small clouds pass over the bridge as I wait for you
Seasons condense amid my eyelashes
I hear the repeated sound of air waves breaking
Passion and lust is naked here, the stars are restless

Thin dry seasons have fallen: something suddenly falls silent
Even among the clamor of the kapok and frangipani flowers
I wait for you
Ever more rarely the clouds pass by
And nothing, not even you, have I ever waited for so long

Tuesday, June 06, 2006

pusing di kerjaan mah udah biasa... tapi kalo keseringan, rudet juga rasanya. pikiran gue belakangan ini udah overloaded banget. ya kerjaan, ya suami, ya anak, ya rumah, ya kartu kredit, ya handphone, ya makan, ya penyakit... duh... kok ya nggak abis-abis rasanya! walhasil, gue jadi nggak produktif [kalo ini mah, udah sejak beberapa waktu yang lalu sih... hehehehe...]. nulis nggak pernah tuntas, bikin skenario mentok melulu, bikin tulisan dari skenario juga mentok melulu. duh Gusti... ke mana larinya semua kreatifitasku yang dulu ya...?
kadang gue mikir, betapa enaknya ibu-ibu yang kerjanya cuma ke salon, belanja dan arisan ya... hidup untuk menikmati duit suami aja. hihihihihi.... betapa repotnya daku yang harus kerja jungkir balik tiap hari, kadang sampe malem pula! gaji nggak seberapa pula.... [tapi tetep disyukuri kok!]
tapi gue lebih sering bersyukur dengan keadaan gue yang punya kerjaan tetap ini. dengan punya kerjaan, berarti gue ini termasuk ke dalam manusia yang mau berbagi ilmu dengan sesama... hehehehe.... gue liat cewek-cewek lain yang menikah muda dan nggak sempet punya pengalaman kerja, mereka tergantung banget sama suaminya. begitu sekali waktu harus pisah, langsung kelabakan karena nggak punya kerjaan, nggak sempet punya pengalaman kerja, nggak tau mesti ngapain, nggak tau gimana caranya hidup tanpa suami. wah... repot amat yeee....???? akhirnya, mereka rame-rame bertahan. bertahan dalam perkawinan tanpa cinta [so pathetic!!!], hanya karena mereka takut menghadapi dunia luar yang buas dan nggak bersahabat, hanya karena mereka takut nggak punya "sumber penghasilan" tetap. duh... hari gini masih tergantung sama suami...???? please, gitu lohhh.... kasian bener Ibu Kartini yang udah memperjuangkan emansipasi wanita kalo hasilnya perempuan cuma bisa termehe-mehe pas ditinggal suami...! kayaknya sia-sia banget kalo perempuan udah sekolah tinggi-tinggi, lulusnya cum laude, trus kawin, trus cerai dan nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak punya pengalaman kerja. akhirnya gelar yang "cum laude" itu cuma jadi isi keranjang sampah doang! nggak ada gunanya karena ilmunya nggak pernah dipake, dan perusahaan jaman sekarang nggak mau nerima karyawan yang cuma modal gelar "lulus cum laude" doang. ngapain lulus cum laude tapi nggak bisa kerja? apa benefitnya buat perusahaan? nah lhooo....! percaya nggak, orang yang ngelamar kerja sekarang jarang banget diminta ngelampirin segala jenis ijasah dan sertifikat. HRD tempat gue kerja aja cuma mau nerima 1 lembar surat lamaran kerja ditambah 2 lembar [maksimal] curriculum vitae TANPA LAMPIRAN IJASAH. perusahaan lebih suka mempekerjakan orang-orang dengan skill atau yang matang karena pengalaman, bukan karena gelar yang glamour. so, kayaknya mendingan gue yang gelarnya nggak seberapa, tapi bisa punya jabatan oke dooong!
jadi, walaupun overloaded dan pusing sama kerjaan dan urusan-urusan lainnya, gue masih sangat bersyukur karena sebagai perempuan, gue bisa berkarya dan punya eksistensi diri. nggak cuma sekedar ibu rumah tangga yang bisanya cuma ngurus rumah dan anak doang! setidaknya, suami gue merasa bangga punya istri seperti gue. nggak tipikal perempuan lemah yang nggak bisa berkarya. gue bisa diskusi apa aja sama suami gue. gue bisa cerita banyak soal kerjaan gue sama suami gue. juga gue banyak dapet inspirasi buat nulis saat gue kerja [walaupun tulisan gue banyak yg masih ngegantung endingnya...]. gue juga bersyukur banget bahwa gue, yang notabene gelarnya nggak seberapa, ternyata bisa berkarya jauh melebihi mereka-mereka yang lulusnya gemerlap dengan gelar-gelar hebat. banyak sarjana dari universitas paling top yang end up cuma jadi pengangguran. beberapa orang temen gue yang bergelar sarjana akhirnya cuma jadi customer service yang digaji setara dengan lulusan SMA hanya karena mereka nggak punya pengalaman kerja. banyak juga yang akhirnya kawin sama cowok yang mapan dan jadi ibu rumah tangga aja. lucunya mereka masih bisa bilang, "gue kan sarjana ekonomi lho... lulusan terbaik pula!" lha...??? kalo udah kawin dan milih untuk jadi ibu rumah tangga mah nggak perlu bawa-bawa gelar kesarjanaan atau peringkat kelulusan lagi kaleeee.....
gue ngebuktiin sama dunia, bahwa you and your title is nothing when you don't stand up dan do something! your title has nothing to do with your appraisal and working performance. sekarang, orang nggak pernah lagi tanya-tanya apa gelar gue, yang mereka liat cuma jabatan gue, track record gue selama berkarir dan hasil kerjaan gue.
see...? they don't give a damn whether I'm a bachelor, a master, a high schooler or a professor!
tanpa mengecilkan arti suami gue, gue senang bisa berkarir. suami jaman sekarang mana mau punya istri yang ngomongnya nggak nyambung dan kepalanya nggak ada isinya? duh, kalo gue kayak gitu dan gue dibawa ketemu temen-temennya, bisa malu-maluin dooong! suami gue tetep kepala keluarga, tapi gue sebagai istri, wajib ngebantuin dia dengan cara apapun dong! dan gue memilih ngebantuin dia dengan cara tetap bekerja. gue tau, suami gue sangat appreciate sama keputusan gue untuk tetap bekerja. moreover, dia malah sangat support sama gue. dia cukup senang jadi "tempat sampah" gue kalo gue punya unek-unek di kantor. dia dengan sabar dengerin curhat gue dan sesekali berkomentar, kadang ngasih masukan, kadang nyoba untuk nenangin gue, kadang juga suka ngomporin. hehehehe....
thank's for your all time support, honey.... you're the BEST...!

Sunday, June 04, 2006

malam...
kemana jiwa ini berpaling
kala gelisah menyusupi celah hati yang robek?

malam...
kemana jiwa yang kesepian ini berlabuh
kala kesunyian meresapi dinding hati?

sunyi...
dalam sepi jiwa ini berkelana...
biarlah sepi melanda
hingga akhir penantian nanti...
"Losing Grip"
Avril Lavigne

Are you aware
of what you make me feel, baby
Right now I feel invisible to you,
like I'm not real
Didn't you feel me
lock my arms around you?
Why'd you turn away?
Here's what I have to say
I was left to cry there,
waiting outside there
grinning with a lost stare
That's when I decided

Why should I care
Cuz you weren't there when I was scared
I was so alone
You, you need to listen
I'm starting to trip,
I'm losing my grip
and I'm in this thing alone...

Am I just some chick
you place beside you
to take somebody's place
when you turn around
can you recognize my face
you used to love me,
you used to hug me
But that wasn't the case
Everything wasn't ok
I was left to cry there
waiting outside there
grinning with a lost stare
That's when I decided

Crying out loud
I'm crying out loud
Open your eyes
Open up wide

Why should I care
Cuz you weren't there when I was scared
I was so alone
Why should I care
Cuz you weren't there when I was scared
I was so alone
Why should I care
If you don't care, then I don't care
we're not going nowhere...
I’m With You
Avril Lavigne

I'm Standing on a bridge
I'm waiting in the dark
I thought that you'd be here by now
Theres nothing but the rain
No footsteps on the ground
I'm listening but theres no sound

Isn't anyone trying to find me?
Won't somebody come take me home?

It's a damn cold night
Trying to figure out this life
Won't you take me by the hand
take me somewhere new
I dont know who you are but I...
I'm with you

I'm looking for a place
searching for a face
is anybody here i know
cause nothings going right
and everything is a mess
and no one likes to be alone

Isn't anyone trying to find me?
Won't somebody come take me home?

It's a damn cold night
Trying to figure out this life
Wont you take me by the hand
take me somewhere new
I dont know who you are but I...
I'm with you...
THE PRAYER

I pray you'll be our eyes
And watch us where we go
And help us to be wise
In times when we don't know
Let this be our prayer
As we go our way
Lead us to a place
Guide us with your Grace
To a place where we'll be safe..

La luce che to dai
[The light that you give us]
I pray we'll find your light
Nel cuore resterò
[Will stay in our hearts]
And hold it in our hearts
A ricordarchi che
[Reminding us]
When stars go out each night
L'eterna stella sei
[You are an everlasting star]
Nella mia preghiera
[That in my prayer]
Let this be our prayer
Quanta fede c'è
[There's so much faith]
When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with your grace
Give us faith so we'll be safe...

Sognamo un mondo senza più violenza
[We dream of a world with no more violence]
Un mondo di giustizia e di speranza
[A world of justice and hope]
Ognuno dia la mano al suo vicino
[Grasp your neighbour's hand]
Simbolo di pace e di fraternità
[As a symbol of peace and brotherhood]
La forza che ci dai
[The strength that you give us]
We ask that life be kind
E'il desiderio che
[Is the wish]

And watch us from above
Ognuno trovi amore
[That everyone may find love]
We hope each soul will find
Intorno e dentro a sé
Another soul to love
Let this be our prayer
Just like every child
Needs to find a place
Guide us with your grace
Give us faith so we'll be safe...

E la fede che
[And the faith that]
Hai acceso in noi
[You've lit inside us]
Sento che ci salverà
[I feel will save us]
Little Wing
Music & Lyrics: Jimi Hendrix
Transcript: www.corrsonline.com

Now she's walking through the clouds
With a circus mind that's running wild
Butterflies and zebras and moonbeams and fairytales
All she ever thinks about is riding with the wind...

When I'm sad she comes to me
With a thousand smiles she gives to me, free
"It's alright, it's alright" she says
"Take anything you want from me"
"Anything..."

Now she's walking through the clouds
With a circus mind that's running wild
Butterflies and zebras and moonbeams and fairytales
All she ever thinks about is riding with the wind...

When I'm sad she comes to me
With a thousand smiles she gives to me free
"It's alright, it's alright" she says
"Take anything you want from me"
"Anything..."

Fly Little Wing...
I want her to fly...
All About Loving You
JBJ, RS, Andreas Carlsson & Desmond Child

Looking at the pages of my life
Faded memories of me and you
Mistakes you know I've made a few
I took some shots and fell from time to time
Baby, you were there to pull me through
We've been around the block a time or two
I'm gonna lay it on the line
Ask me how we've come this far
The answer's written in my eyes

Every time I look at you
Baby, I see something new
That takes me higher than before
and makes me want you more
I don't wanna sleep tonight,
dreamin's just a waste of time
When I look at what my life's been comin' to
I'm all about lovin' you...

I've lived, I've loved, I've lost, I've paid some dues, baby
We've been to hell and back again
Through it all you're always my best friend
For all the words I didn't say and all the things I didn't do
Tonight I'm gonna find a way

Every time I look at you
Baby, I see something new
That takes me higher than before
and makes me want you more
I don't wanna sleep tonight,
dreamin's just a waste of time
When I look at what my life's been comin' to
I'm all about lovin' you...

You can take this world away
You're everything I am
Just read the lines upon my face
I'm all about lovin' you...
plaza senayan [completed with all the favorite tenants inside!] - meeting point paling enak kayaknya ya di sini yaa...

coffee bean & tea leaf - for the best salmon omelette in the morning... hmmm.... yummy!

starbucks plaza senayan - when coffee bean & tea leaf is fully occupied, this is the second choice that we have in mind...

eXcenter - for the best non-smoking concept mall [damn!] and the best cafes along the bridge, overlooking to the parking area...

hard rock cafe - the best steak and the best service!

plaza indonesia - the alternate palce when we walk along the bridge of eXcenter... hahaha!

mall ambassador - every girls love this place!

gajah mada plaza - cari toko sepatu dansa yang ternyata udah tutup tea! sialnya, malah pindah ke bandung! duh, capek-capek ke jakarta, malah buka di bandung!

warung podjok - one corner at the mall where we can feel a true indonesian atmosphere... hehehehe!

the premier - for the best treat of THE DA VINCI CODE!

sushi tei plaza senayan - well... we love sushi very much, don't we???

kinokuniya - the best bookstore ever!!!!
tak ada lagi kemarahan...
tak ada lagi tanya...
tak ada lagi cemburu...
tak ada lagi dendam...
tak ada lagi kebencian...
tak ada lagi kesedihan...
tak ada lagi lara...
tak ada lagi duka...
tak ada lagi pengharapan...
tak ada lagi haru...
tak ada lagi suka ria...
tak ada lagi kepedihan...
tak ada lagi kesepian...
tak ada lagi kegelisahan...
tak ada lagi penantian...
yang akan aku berikan untukmu...
telah aku matikan semua itu demi jiwaku yang terluka...
demi jiwamu yang haus petualangan batin...
hanya akan ada cinta dan kerinduan yang tersisa untukmu...
tersimpan rapi hingga tiba waktumu datang dan mengetuk kembali pintu jiwaku...
SEBUAH AKHIR YANG MANIS
Setelah berminggu-minggu aku lewati sendiri, penuh dengan kekalutan, ketakutan dan kegelisahan. Penuh dengan harapan-harapan yang tak menjelma jadi nyata, akhirnya ketenangan itu datang juga. Ia datang mengendap-endap kala gundah sedang melanda jiwaku. Dia datang begitu saja. Tiba-tiba. Menyusupkan kepasrahan di sela-sela hatiku dan membuatku tenang. Ternyata ketenangan itu harus aku ciptakan sendiri. Sia-sia aku mengharap dirinya memberikan ketenangan itu untukku, karena ia selalu memilih jalan yang lain. Selalu memilih jalan untuk menyakitiku.

Di tengah malam yang sunyi, hatiku berbisik padaku untuk melepaskan semuanya. Merelakan dirinya mengarungi samudra semu dan meneruskan pencariannya yang abadi. Tak perlu lagi aku menunggu setiap hari, karena ia hanya hanya akan pulang di saat hati kecilnya menyuruhnya untuk pulang. Tidak karena aku yang menghiba di sudut kakinya. Tidak pula karena aku, dengan segenap hati yang sudah rombeng, mengemis belas kasihnya. Tak perlu lagi aku merendahkan martabatku padanya. Berbesar hati dan berlapang jiwa dengan membiarkannya meneruskan pencariannya adalah jalan terbaik bagiku saat ini. Pencarian itu tak akan pernah ada akhirnya. Dan tak ada gunanya aku terus mempertanyakan kepulangannya. Tak pula ada gunanya aku terus mengujinya dengan berbagai pilihan, karena ia tetap akan memilih apa yang sesuai dengan keinginannya. Tak peduli aku, sekarat, hampir mati di sini karena membutuhkannya. To love is to let go. If you really love someone, you have to set him free…

Jangan lagi melihat ke masa lalu! Jangan ingat-ingat lagi semua janjinya padamu! Jangan kau menuntut kata-katanya padamu dahulu! Ia bukan lah yang dulu, maka sebaiknya aku memang menutup buku ini, dan menggantinya dengan yang baru. Agar tenang batin ini menjalani sisa waktu yang tak banyak. Jika suatu hari nanti penyesalan menggantung di langit jiwanya, biarlah ia rasakan itu sebagai jawaban atas kepergiannya saat ini.

Matahari memang tak lagi terbit di langitku, namun masih ada bulan yang sinarnya setia menemani aku melewati malam-malamku yang sunyi. Menemani kesendirianku meniti waktu. Menghadirkan senyum di wajahku. Membawakan burung malam untuk menyanyikan kidung-kidung lara yang mendayu-dayu. Aku tahu, jiwanya menemaniku dari jauh. Meski bukan itu yang aku butuhkan saat ini, namun cukup lah untukku mengetahui ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tak bisa aku lafalkan dalam logikaku. Tapi bukankah setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mencintai…?

Aku mencintainya, maka aku merelakannya…
Suatu hari cinta dan nuraninya akan menuntunku kembali padanya...
T E R N Y A T A

ternyata.... ketenangan itu harus aku ciptakan sendiri. tak bisa aku harapkan dia memberikannya untukku. maka ini lah aku kini.... tak akan pernah lagi mempertanyakan apapun padanya, hanya semata untuk ketenangan jiwaku. jika hanya dengan cara ini dia memperbolehkanku untuk mencintainya, maka biarlah ini yang aku jalani...

Saturday, June 03, 2006

A K H I R N Y A

akhirnya 'ku temukan juga ketenangan jiwa itu. ia datang tiba-tiba saat gundah sudah mulai menguburku. kepasrahan itu menerangi hatiku. kini, tak ada lagi beban yang terasa di pundak, hanya ada rasa tenang. aku telah membiarkannya berlayar mencari jiwanya yang hilang. aku telah memberinya waktu untuk menyembuhkan jiwanya yang terluka. dan aku tak akan membatasinya. akan 'ku biarkan ia melintasi dunianya yang semu sesuka hatinya, agar terlepas semua rasa gundahnya. agar tak lagi ada kegelisahan saat ia bersamaku nanti. biarlah ia cari apa yang selama ini tak pernah hilang itu...

jika aku menyimpan duka dan lara, maka biarlah hatiku merahasiakannya dari duniaku...
jika aku menyimpan kepahitan, maka biarlah jiwaku menguburnya untukku sendiri...
jika hanya dengan cara ini aku boleh mencintainya, maka biarlah pedangnya melukaiku sesuka hatinya... karena hanya dengan cara ini ia tahu, aku mencintainya...

Friday, June 02, 2006

PERNIKAHAN BATIN

kita sama-sama tahu, bahwa jauh di dalam hati, batin kita telah menikah dalam sebuah perkawinan sunyi. hanya di sana lah jiwa-jiwa kita menyatu tanpa campur tangan dunia. saling genggam satu sama lain tanpa terganggu caci-maki siapa pun. membiarkan malam merambat pelan dan menua...

Thursday, June 01, 2006

'KU KATAKAN DENGAN INDAH

'ku katakan dengan indah, dengan terbuka
hatiku hampa, sepertinya luka menghampirinya
kau beri rasa yang berbeda
mungkin 'ku salah mengartikannya
yang 'ku rasa cinta...

tetapi hatiku…
selalu meninggikanmu,
terlalu meninggikanmu,
selalu meninggikanmu...

kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu

kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu...

tetapi hatiku…
selalu meninggikanmu,
terlalu meninggikanmu,
selalu meninggikanmu...

membuatku terjatuh dan terjatuh lagi,
membuatku merasakan yang tak terjadi,
semua yang terbaik dan yang terlewati,
semua yang terhenti tanpa 'ku akhiri...

kau buatku terjatuh dan terjatuh lagi,
kau buatku merasakan yang tak terjadi,
semua yang terbaik dan yang terlewati,
semua yang terhenti tanpa 'ku akhiri...

tetapi hatiku…
selalu meninggikanmu,
terlalu meninggikanmu,
selalu meninggikanmu...

kau hancurkan hatiku, tak tertahan lagi
kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu
kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu..

.....

by peterpan
MUNGKIN NANTI

saatnya 'ku berkata
mungkin yang terakhir kalinya...
sudahlah lepaskan semua
'ku yakin ini lah waktunya...

mungkin saja kau bukan yang dulu lagi...
mungkin saja rasa itu telah pergi...


dan bila hatimu termenung
bangun dari mimpi-mimpimu...
membuka hatimu yang dulu
cerita saat bersamaku

mungkin saja kau bukan yang dulu lagi...
mungkin saja rasa itu telah pergi...


dan mungkin bila nanti
kita 'kan bertemu lagi
satu pintaku...
jangan kau coba tanyakan kembali
rasa yang 'ku tinggal mati
seperti hari kemarin
saat semua di sini...

tak usah kau tanyakan lagi...
simpan untukmu sendiri
semua sesal yang kau cari...
semua rasa yang kau beri...

by peterpan
SUDAH BERLALU

mungkin sudah berlalu
bersama redup senja
kita bukanlah satu
'ku tak lagi kau puja
kini tak akan lagi
'ku harap indah mimpi...

bila tak lagi kau resapi
cinta hanya 'tuk dua hati
jangan lagi kau ucap janji
bila hanya kau ingkari...


[kikan/COKELAT by iwan fals]
SESUATU YANG TERTUNDA

di sini aku sendiri
menatap relung-relung hidupku
aku merasa hidupku
tak seperti yang 'ku inginkan
terhampar begitu banyak
warna kelam sisi hidupku
seperti yang mereka tahu...

aku merasa disudutkan kenyataan
menuntut diriku tanpa sanggup 'ku melawan
butakan mataku, semua tentang keindahan
menggugah takutku, menantang sendiriku
temui cinta, lepaskan rasa...

di sini aku sendiri
masih seperti dulu yang takut
aku merasa hidupku pun surut
'ku tumpukan harap
tergambar begitu rupa, samar
seperti yang 'ku rasakan
kenyataan itu pahit...

kenyataan itu sangatlah pahit...

aku merasa disudutkan kenyataan
menuntut diriku tanpa sanggup 'ku melawan
butakan mataku, semua tentang keindahan
menggugah takutku, menantang sendiriku
temui cinta, lepaskan rasa...


[fadli/PADI + iwan fals]

Monday, May 29, 2006

L E T I H

letih meniti hari-hari sepi dalam penantian tak berujung. sungguh terus aku pertanyakan di mana kesalahanku, karena dera yang kau berikan memang di luar batas kemampuanku. raga ini telah penat, namun aku belum boleh berhenti. semua yang terjadi bukanlah kehendakku, namun mengapa harus aku yang menjadi persembahan di atas altar pemujaan ini...?
rupanya hati nurani telah mati...
aku dengar hari ini ia telah dikuburkan di dasar jurang kebohongan dunia...
aku marah, karena aku tak pernah memilih untuk menjadi begini. ini bukan pilihanku! mereka yang memilih, tapi aku yang harus menjalani. adilkah....?
letih bertanya akan kepulanganmu. letih mendengar jawaban yang tak pasti. letih berharap dan letih menuai kekecewaan.
esok... tak akan lagi aku pertanyakan semua itu. biarlah.... tak perlu lagi harapan kosong ini... agar tak terbuka lagi luka di jiwa...
C A S T A T R O P H E

ada sedikit prahara tersimpan di dalam rongga jiwaku, saat aku harus memilih antara hatiku atau logika. saat kau mengharapkan pengertian dariku, saat itu pula aku terjatuh dan mencoba menggapai tanganmu yang tak terulur. telah aku berikan semua pengertian yang aku miliki untukmu... seluruhnya... hingga hilang sudah kepercayaanku atas cinta dan kebersamaan. semua terasa bagai omong kosong yang ditebarkan mimpi sebagai buaian indah.

cinta... jika aku mencintai seseorang, aku harus mau melakukan apa pun untuknya, meskipun nyawaku harus tergadai. jika cinta memanggil, aku datang walaupun yang aku terima hanya dera jiwa. jika aku menginginkan cinta, maka aku akan datang menghampirinya, walau tak jarang hanya kekecewaan yang aku dapati. jangan meminta darinya... karena bukan itu cinta yang sejati... biarlah waktu yang memberikan semua kesempatan yang tersisa untukku.

tak perlu lagi memintanya untuk kembali... biarlah ia tenggelam dalam pencarian abadinya. mungkin suatu hari nanti, ia akan sadari, bahwa sebenarnya ia tak pernah kehilangan apa pun... maka pendam saja semua pinta itu, biarkan ia menyesali masa lalunya ketika semuanya telah terlambat. mungkin hanya dengan begitu, sang waktu bisa mengajarkan sebuah arti penantian, pencarian dan penyesalan...

di batas keraguan tersimpan keyakinan ketulusan cintaku...

'ku ingin kepastian sungguh adanya aku untuk dirimu, kasih...

mengapa kau tak mengerti halusnya perasaanku...

kau goreskan keraguan...

namun 'ku menyayangimu walau hilang percayaku....

biar cinta menuntunku untukmu...

haruskah 'ku pergi darimu...

haruskah...

namun 'ku menyayangimu walau hilang percayaku...

biar cinta menuntunku untukmu....

[Kepastian by Rossa]

Sunday, May 28, 2006

S E N D I R I

di puncak tertinggi ini aku berdiri di bawah langit senja, menatap kotaku yang meredup cahayanya. hembus angin terasa sejuk, seolah mencoba menolongku menepis semua kesedihan dan kegelisahan yang berkarat dalam hatiku. jiwaku rasanya sudah mati, hanya ada sepotong raga kosong yang tersisa.

tak ada salahnya menikmati kesendirian. mungkin aku kurang memberi waktu pada diriku sendiri selama ini. mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan diriku sendiri. sepanjang hidupku aku selalu berusaha untuk membahagiakan orang lain. selalu berusaha untuk ada di setiap lekuk liku kehidupan orang lain, hingga saat mereka perlu bantuanku, aku sudah siap di belakang mereka. namun rupanya tak pernah ada yang adil di dunia ini. atau mungkin aku yang terlalu banyak berharap. berharap orang lain akan melakukan hal yang sama padaku, sementara mereka tak pernah menganggap aku pantas menerima pemujaan yang begitu hebat. maka kini tinggallah aku di sini, sendiri ditemani jiwa yang retak.

ke mana kah dirinya di saat aku butuh pegangan...?

di mana kah nuraninya ketika aku berseru padanya sampai jatuh berlutut dan memohonnya untuk datang...?

wahai kau yang mencintaiku... sedalam apa kiranya hatimu... aku yang tersungkur sendiri di bawah pijakan kenyataan, hanya bisa berharap mata hatimu terbuka sebelum nyawa ini melarut bersama angin senja...

aku hanya punya pinta kecil nan sederhana, namun mengapa semuanya seolah sangat sulit untuk terwujud... aku hanya ingin kau ada di sisiku, menggenggam tanganku erat dan hangat ketika rasa sakit itu datang mendera. aku hanya ingin kau mendekapku ketika kenyataan pahit itu dilemparkan di depan mukaku. aku hanya ingin kau menemaniku melewati hari-hari tersulitku. hari-hari di mana jiwaku terjatuh ke titik terendah. hari-hari di mana aku merasa dunia begitu gelap dan dingin.
namun semua pinta itu berlalu bersama hembus angin malam. melarut dalam kelamnya langit malam yang dingin. tanpa wujud nyata. meninggalkanku dalam kegelisahaan abadi dan kekecewaan tak berujung. mengapa sesuatu yang begitu sederhana justru sangat sulit menjadi kenyataan...?
aku hanya butuh kehadiranmu di sini untuk menguatkanku melewati detik-detik terakhir dalam hidupku... namun kau tetap tak sudi ulurkan tanganmu. tetap tak sudi merengkuhku ke dalam pelukmu yang hangat. tetap tak mau berjalan bersisian denganku, karena kau merasa belum siap melakukan semua itu...
aku seperti dikhianati hatiku sendiri. ditinggalkan oleh jiwaku sendiri tanpa teman. betapa sunyi rasanya ketika seluruh alam tak lagi mau berdendang untukku. sepi ini kian terasa menusuk rongga jiwaku...
sakitku ini tak akan pernah terobati...

Friday, May 26, 2006

dan semakin ku sadari, bahwa tak satu pun yang ku perbuat akan membawamu pulang kepadaku secepat ku mau. kau akan pulang jika kau mau. aku tak tahu kapan, karena kau pun tak tahu kapan. kau biarkan hatiku teriris setiap saat dan kau biarkan jiwaku terluka mendengar pernyataanmu.
dan tak satu pun keadaan yang mampu membuatmu tergerak untuk menemani hari-hariku di sini. tak satu keadaan pun yang mampu membuka mata hatimu akan pentingnya arti kehadiranmu bagiku setiap saat, tentang bagaimana aku perlu berpegang padamu saat bumi yang terpijak terasa goyah.
maka biarlah aku berjalan sendiri melewati sisa waktuku di sini, mencoba menghempas dunia yang menyisihkanku, mencoba menyingkirkan rasa sakitku atas dirimu yang kian menjauh. tak perlu permintaan maaf itu. tak juga perlu sedu sedan itu. tak ada satu pun yang bisa membuatmu pulang kecuali dirimu. maka aku akan memupuskan seluruh pinta ini. biarlah terkubur bersama letih jiwaku. biarlah terbawa angin senja yang melaju pergi, meninggalkan cakrawala nan kelabu...
[jakarta - bandung, 25 mei 2006]

Thursday, May 18, 2006

saat kenyataan dilemparkan ke depan mukaku, aku goyah... tapi aku tak bisa berpegang padamu, karena kau tak sudi menemaniku berjalan bersisian di bawah kelamnya duniaku...
"kau harus kuat... untukku... aku butuh kau untuk kuat..."
"lalu bagaimana jika aku tak kuat dan terjatuh...?"
"jangan jatuh... demi aku... demi kita..."
tak bisa berpegang pada lenganmu...
tak bisa bersandar di dadamu...
tak bisa menangis di bahumu...
tak bisa bertopang padamu...
karena kau ciptakan jarak di antara kita
entah sampai kapan...
kau tak tahu...
aku tak tahu...
tak ada yang tahu...
larutlah kau dalam lemahmu, jika itu yang kau inginkan dalam hidupmu...
tapi jangan kau minta aku untuk kuat jika kau sendiri pun lemah...
adilkah...?
saat jiwaku merepih, aku temui diriku berdiri di kesunyian malam. sendiri tanpamu. mencoba merobek hening langit malam lewat sinar bulan purnama, namun aku habis daya. maka berjalanlah aku dalam dingin hembus bayu. menembus kabut dunia yang seolah mengelam. mencoba mengerti arti semua yang terlukis di langit malam...
mungkin aku memang harus sendiri, karena malam adalah penggalan jiwaku, bukan dirimu. telah ku tunggu sapamu hari ini, namun sepi menyambut rindu yang berkalang di hati. tak ada lagi suaramu yang temaniku dalam titian hari. ku jumpa kebisuan saat ku mencoba panggil namamu. di manakah kamu... aku tak tahu... mungkin telah kau lupakan belahan jiwa yang mengering ini. mungkin telah kau gadaikan potongan hati yang meruam ini pada langit senja yang menjingga. atau mungkin telah kau lemparkan sisa lara yang meranggas dalam jiwaku bersama hembus bayu yang mengelilingi cakrawala malam. aku tak tahu... mungkinkah terhapus semua kenangan itu?
jika tak kau pastikan hadirmu dalam rongga duniaku, tak bisakah sepotong sapamu temaniku lewati malam ini...?
jika terhapuskan semua kenangan itu, tak bisakah kau simpan kerlip binar mataku yang selalu terpancar saat kau ada...?
jika telah kau lupakan belahan jiwa yang mengering ini, tak bisakah seukir senyummu kau biarkan menghiasi dinding jiwaku...?
jika telah kau gadaikan potongan hati yang meruam ini pada langit senja, tak bisakah percik rindumu hangatkan diriku sejenak saja...?
jika telah kau lemparkan sisa lara yang meranggas dalam jiwaku ini bersama hembus bayu, tak bisakah kau terbang bersamaku ke dunia yang lain...?
malam yang berwarna telah membawaku pulang. kembali ke realita di mana hanya sepi yang menderaku. sapamu tak ku jumpa. tak ada kata cinta. tak ada kata rindu. tak ada ucapan selamat tidur. tak ada... hanya ada aku sendiri, berjalan di bawah lazuardi kelabu. hanya bintang yang sudi berkedip mesra padaku...

timeframe

Dari dulu gue selalu membiasakan diri untuk punya tenggat. segala sesuatu yang gue lakukan harus ada timeframe-nya. kenapa? ya biar tertib aja kaleeee.....!!! terorganisir gitu lah... gue ngerasa dengan timeframe yang gue bikin, semua urusan gue jauh lebih ringan.
misalnya;
bikin desain iklan: nggak boleh lebih dari 30 menit [kalo proses approval-nya lama karena banyak request dan perubahan, itu mah urusan lain dong!]
mehe-mehe karena diputusin pacar: nggak boleh lebih dari 2 minggu [ya kalo kasusnya berat, boleh sampe sebulan deh!]
bete karena dimarahin bos: nggak boleh lebih dari 1 hari [profesional atuh...!!!]
nyari contact person artis terkenal: nggak boleh lebih dari 1 minggu [masa iya sih PR nggak punya network ke sana...?]
bikin press release: nggak boleh lebih dari 30 menit [ini kan mengarang bebas, udah belajar dari jaman SD, nilai mengarang gue selalu bagus pula, jadi... ngapain lama-lama???]
proses ngirim press release sampai dimuat: nggak boleh lebih dari 1 minggu [habis ngirim, telpon wartawan atau pemrednya dong ah! biar cepet dimuat... hehehehe....]
dan masih banyak lagi timeframe buat diri sendiri yang gue bikin.
tapi menurut gue, yang paling penting selama hidup gue adalah... gue selalu ngasih timeframe untuk menyelesaikan masalah atau ngatasin masalah yang gue hadapi.
timeframe gue buat ngatasin masalah yang gue punya, strictly cuma 2 bulan!!! seberat apa pun masalah pribadi gue, harus bisa gue atasin dalam 2 bulan. gue harus bisa bangkit lagi dalam 2 bulan. nggak boleh lama-lama!
kenapa?
karena gue nggak mau [dan nggak suka banget] larut dalam suasana sentimentil dan melankoli yang berlebihan.
kenapa?
karena gue nggak perlu rasa kasihan dari orang yang liat gue termehe-mehe dengan masalah gue.
kenapa?
karena.... buat apa lama-lama? malah jadi nggak produktif dan ngerusak badan aja gitu lohhh...!
life must go on... dan menikmati keterlarutan dalam sebuah masalah atau rasa lemah sama sekali "nggak gue banget!", soalnya gue sendiri menilai orang-orang yang memuja kelemahan mereka dan memilih untuk larut dalam melankoli nggak penting itu, sebagai orang-orang yang nggak bisa menikmati dan mensyukuri hidup mereka. sayang amat kalo hidup yang pendek ini cuma diisi dengan menikmati rasa lemah, sedih dan menderita... huuu.... rugi banget lah...!
lagian buat apa sih kita harus mengekspos kelemahan kita? biar orang pada simpati [baca: kasian] sama kita? duh.... kayaknya nggak banget deh...
prinsip gue adalah...
gue bisa kalo gue bilang "gue bisa!"
gue nggak bisa kalo gue bilang "gue nggak bisa..."
gue kuat kalo gue bilang "gue kuat!"
gue lemah kalo gue bilang "gue ini lemah..." [please deh.... basi bangeeeet....!]
dan gue rasa, itu juga berlaku buat semua orang di seluruh dunia....
self motivation is the most important thing...
biarpun sekeliling lu mendukung, kalo lu ngerasa nggak bisa, nggak mampu dan nggak kuat... mana bisa lah yaww....!!!
gue bersyukur bisa nentuin timeframe buat diri gue, masih banyak orang yang nggak bisa "memutuskan" mau bangkit dalam berapa lama atau mau jatuh selama berapa taun.
gue seneng bisa memutuskan buat diri gue sendiri, karena itu artinya....
GUE KENAL BANGET SAMA DIRI GUE SENDIRI
gue tau segimana batas gue
gue tau banget kekuatan gue
gue tau banget kelemahan gue
gue tau banget bahwa gue bisa...!
gue tau banget bahwa gue kuat...!
gue tau banget bahwa gue mampu...!
dan...
gue tau banget bahwa hidup gue nggak akan tersia-sia karena gue harus mehe-mehe berkutat dengan melankoli yang nggak penting....