Wednesday, April 27, 2005

The Diary; Now and Then....

Sudah sekian lama berlalu...
Masih tersimpan semua kenangan itu...
Mungkin dirimu memang sedang belajar
Mungkin baru kini dirimu tersadar
Mungkin kita memang harus saling kehilangan dulu
Sampai akhirnya tahu bagaimana merasakan kehadiran
Namun sepertinya semua sudah terlalu terlambat
Tak lagi bisa menyatukan pikiran bersama
Tak lagi dapat menyatukan keinginan berdua
Maka biarkan lah aku sendiri
Berjalan melintas sepi hari ini
Tanpa hadirmu...
Tanpa sertamu...
Tanpa siapa-siapa...
[bimbang....hanya ikuti kata hatiku sendiri...]

Thursday, April 21, 2005

The Diary; Hujan...

aku menatap butiran hujan yang turun dari balik jendela. sesekali kilat menyambar di langit, memberikan pendar menyilaukan. hujan ini masih juga belum mau berhenti, padahal senja sudah mulai menua, dan langit sudah kian menggelap.
hatiku gelisah... tak tahu bagaimana aku harus berbuat. hujan masih saja menebar tirainya yang putih. rapat. basah. dingin. membuat kakiku enggan melangkah menembusnya. terbayang sudah dinginnya angin yang berhembus di luar sana. maka di sini lah aku berdiam. duduk menatap tirai hujan di luar sana. memandangi angin yang sedang mencoba melukisi air dan udara dengan geraknya.
sebenarnya hujan senja ini indah... namun entah kenapa, aku tak bisa menikmatinya seperti waktu-waktu sebelum ini. mungkin hatiku sedang gundah. mungkin juga aku sudah terlalu penat. atau memang aku sudah kehilangan daya apresiasiku terhadap alam.
sebenarnya aku dapat melihat gambaran wajahmu di dalam lukisan yang dibuat oleh angin. namun semuanya begitu samar, nyaris tak terlihat. mungkin itu karena memang sosokmu entah ada di mana, hingga angin pun tak sanggup melukiskanmu dengan jelas.