Thursday, November 23, 2006

Di Bawah Matahari Bali
[done on Monday, 20 November 2006]

Kana mengamati butiran pasir yang terselip di sela jari kakinya. Pasir itu terasa hangat. Baru pukul empat sore lebih sedikit, matahari belum turun di pantai ini. Kana menikmati sinarnya yang hangat, ia tak peduli teriknya akan menghitamkan kulit. Liburan. Begitulah yang ada dalam pikirannya saat itu. Tiba-tiba Kana merasakan jemarinya digenggam. Damar. Kana tersenyum dalam hati. Akhirnya ia bisa juga berjalan menyusuri pasir pantai Kuta bersama laki-laki itu. Tak banyak yang diinginkannya, hanya menikmati matahari yang tenggelam dan langit senja yang indah di pantai bersama Damar. Pantai mana pun, Kana tak peduli, asalkan bersama Damar.

Kana dan Damar duduk di atas pasir, tepat di depan matahari. “Do’aku terjawab sudah” ujar Kana dalam hati. Sebelum berangkat, Kana hanya meminta satu hal. Ia ingin berjalan menyusuri pantai, lalu duduk memandangi matahari yang terbenam dengan Damar di sisinya. Kana merasakan melankoli yang aneh dalam hatinya. Menikmati senja di pantai bukan lah sesuatu yang bisa dilakukannya setiap hari, apalagi dengan Damar di sisinya.

Matahari masih bersinar terik, tapi hati Kana terasa sejuk. Andai saja mereka bisa seperti itu setiap hari. Tapi mereka tak bisa seperti itu setiap hari. Karenanya, Kana merekam momen senja itu baik-baik dalam memori otaknya. Setiap detik adalah harta yang berharga. Kana tak ingin kehilangan satu detik pun.

Matahari yang terbenam itu indah. Tapi kebersamaannya dengan Damar jauh lebih indah. Kana tak ingin menukarnya dengan apapun. Kana tak ingin bertukar tempat dengan siapapun.

“Look, honey… it’s so romantic…” bisik Damar sambil memeluk Kana dari belakang. Berdua mereka memandangi langit yang jingga keunguan. “Yeah… it is…” sahut Kana. Senja itu memang terasa sangat romantis. Karena Damar ada di sisi Kana. Keduanya tak terlalu banyak bicara satu sama lain. Hati mereka yang bicara lebih banyak. Kana mendengar seruan hati Damar setiap saat, “I love you…”. Kana merasakan Damar mengecup punggungnya lalu memeluknya lebih erat lagi. Kana memejamkan matanya. Ia tak ingin berpisah lagi dari Damar. Bahkan berpisah beberapa hari saja sudah terasa seperti terlalu lama baginya. Tapi Kana tak pernah berani menggantungkan harapannya terlalu tinggi. Hari ini saja. Untuk hari ini saja. Begitulah yang diajarkan Damar padanya. Hiduplah untuk hari ini saja. Lakukan semuanya untuk hari ini saja. Sebenarnya hal itu sangat bertentangan dengan pola pikir Kana yang terbiasa panjang dan terorganisir, penuh dengan segala macam tindakan prevensi, rencana A, B, C sampai Z. Namun Kana merasa, tak ada salahnya jika dalam satu-dua hal ia mengikuti pola pikir Damar.

“Mau cari orang lain?” tanya Damar. Kana menggeleng dalam pelukan Damar. “Tambatan terakhir?” tanya Damar lagi. Kana mengangguk. Tambatan terakhir. Hati Kana sedikit tersayat mendengarnya. Ia selalu berharap setiap laki-laki yang singgah dalam hidup beberapa tahun terakhir ini adalah tambatan terakhirnya. Jiwanya yang telah lelah berlayar sangat ingin berlabuh. Namun sayang, semua lelaki itu tidak menjadikannya tempat parkir. Kana hanya jadi shelter. Tempat pemberhentian sementara, bukan tujuan akhir. Maka hatinya diliputi sedikit ragu ketika mendengar Damar bertanya. Akankah…? Kana hanya bisa berharap dan mengusahakan yang terbaik. Kana hanya bisa berharap dirinya cukup baik untuk Damar. Besok Damar pulang. Kana masih harus tinggal sehari lagi di Bali karena mereka tidak berhasil mendapatkan jadual kepulangan yang sama. Kana merasa ada sesuatu yang mulai hilang dalam dirinya. Ia akan sendirian besok. Tak ada Damar. Kana sendirian. Hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam ini. Sama seperti ia menikmati setiap detik kebersamaan mereka di tepi pantai sore tadi.


Kana duduk sendirian di teras Black Canyon Coffee. Teras itu menghadap langsung ke laut. Pantai masih sepi. Baru pukul duabelas siang. Masih terlalu terik untuk berjemur. Kana membiarkan angin mempermainkan rambutnya yang terurai. Aroma laut tercium. Kana menghirup dalam-dalam aroma yang menguar di sekitarnya. Aroma laut adalah aroma kedua yang disukainya. Aroma pertama yang disukai Kana adalah bau tanah dan udara basah sehabis hujan.

Alam terlihat tenang. Hanya ada debur ombak di kejauhan yang membuih putih. Kana menikmati suasana itu, tapi hatinya kosong. Kana sendirian. Tak ada Damar di sisinya. Tentu semuanya akan jauh lebih indah jika laki-laki itu ada di sisinya saat ini. Kana kesepian di tengah keramaian. Sedikit menyesal karena tak membawa laptop-nya, Kana melewatkan waktu makan siangnya sambil membaca. Tapi pikirannya sulit fokus pada bukunya. Pemandangan yang indah, hembus angin laut yang sejuk, lagu-lagu mellow yang mengalun di kafe dan kesendirian yang dirasakannya membuat pikiran Kana terpecah. Antara kesepian, rindu dan nikmat. Lagu-lagu yang diputar mengingatkannya pada Damar. Kana menghela nafas.
“You used to be a good friend to loneliness, Kana. Now, all the best that you can do is letting it come to accompany you here…” Kana bicara pada dirinya sendiri. Jiwanya hampa dan hatinya perih, tapi ia mencoba berkompromi dengan rasa sepi yang setia menemaninya. Hanya sehari ini saja, besok ia akan pulang dan bertemu lagi dengan Damar.

Setelah satu jam duduk di kafe itu, Kana memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai. Laut masih surut dan jauh. Kana berjalan di atas pasir padat yang basah. Pantai benar-benar sepi, hanya ada beberapa orang yang berenang saja. Andai saja pantai ini bisa selalu sesepi ini, tentu pengalaman kemarin akan terasa lebih dalam. Kana berjalan perlahan. Menikmati sapaan angin laut yang sejuk. Berbagai percakapannya dengan Damar berkelebat di rongga kepalanya.

“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? Seberapa besar?”
Kana menghela nafas dan berpikir, “Aku nggak mau menukar tempatku saat ini dengan siapapun.”
Damar tersenyum.
“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? How much?”
Ganti Damar yang menghela nafas, “Kalau ada laki-laki lain yang minta tukar tempat sama aku, pasti bakal aku gebuki!”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Mau cari orang lain?”
Kana menggeleng.
“Tambatan terakhir?”
Kana mengangguk.

Meski dengan sejuta ragu dalam hatinya, Kana tetap mengangguk. Bukan ragu atas keinginannya menjadikan Damar sebagai tambatan terakhirnya. Tapi ragu atas kemampuan Damar bertahan dengannya hingga benar-benar menjadi tambatan terakhirnya. Selama ini “tambatan terakhir” hanya menjadi mimpi semu bagi Kana.

Kana berdiri memandangi debur ombak yang berkejaran ke pantai. Membiarkan pikirannya lepas. Kana selalu merasa nyaman berada di dekat Damar. Laki-laki itu bisa memberinya rasa aman dan kebebasan pada saat yang bersamaan. Cintanya begitu besar pada Damar, sampai-sampai Kana sendiri tak tahu, seberapa besar sebenarnya rasa itu tumbuh dalam hatinya. Begitu besar dan begitu dalam terasa. Jauh melebihi apa yang pernah dirasakannya sebelumnya. Begitu besar dan dalam hingga Kana sering ketakutan. Takut jika suatu hari Damar pergi, ia tak akan lagi mampu bertahan sendirian. Kana menyadari dirinya lemah. Ia mempercayakan jiwanya yang rapuh pada Damar. Hatinya tinggal sekeping. Namun kepingan terakhir itu diam-diam telah ia berikan kepada Damar. Kana tak tahu apa yang akan terjadi seandainya Damar memutuskan untuk membuang kepingan itu jauh-jauh.

Semalam, Kana menghabiskan bermenit-menit untuk mengamati wajah Damar yang terlelap di sebelahnya. Pikirannya melayang jauh kembali ke beberapa tahun silam.

Kana duduk menghadapi komputernya. Kantor masih sepi. Baru ia dan office boy saja yang datang. Kana memang datang lebih pagi hari ini karena ada beberapa pekerjaan yang tidak tuntas dikerjakannya kemarin. Diperhatikannya layar komputer yang berpendar di hadapannya. Ketika Kana membuka situs pertemanan yang sedang naik daun, ia mendapati dua buah pesan di home page-nya. You have friend requests. You have new messages. Kana tersenyum sendiri. Ia selalu excited jika melihat indikator-indikator itu tercetak dengan huruf tebal. Kana meng-klik pilihan ‘you have friend requests’ lebih dahulu. Ada 2 orang yang memasukkannya ke dalam daftar teman. Yang seorang adalah Ira, temannya semasa SD dulu. Yang satu lagi bernama Damar. Kana tidak kenal. Kana memutuskan untuk melihat profil si pemilik nama ‘Damar’.

Ketika halaman utama profilnya terbuka, Kana mendapati foto yang terpampang adalah foto sekelompok anak Punk dengan dandanan ekstrim. Kana bahkan tak tahu, yang mana Damar. Ada beberapa foto yang di upload di halaman profil itu. Akhirnya Kana mendapati satu foto yang agak lebih jelas, walaupun tak terlalu jelas karena diambil dari samping. Hanya saja, laki-laki dalam foto itu berpose sendirian. Pastinya itu lah ‘Damar’. Kana mengamati uraian dalam profilnya. Sebenarnya tidak terlalu menarik. Biasa saja. Profil yang tidak diisi dengan kesungguhan hati. Bisa saja isinya hanya dusta belaka.

“Siapa sih ini… nggak jelas banget…” gumam Kana. Namun sejurus kemudian matanya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Hanya dua hal yang membuat Kana tertarik. Laki-laki itu menuliskan ketertarikannya pada penyakit adiksi pada kolom ‘interest’ dan tempatnya bekerja adalah sebuah LSM, Payung Jiwa. Kana tahu, beberapa teman baik suaminya juga bekerja di sana. ‘Suami’, betapa Kana ingin muntah ketika kata itu melintas di dalam rongga otaknya. Akhirnya Kana memutuskan untuk membiarkan laki-laki itu, Damar, atau siapapun namanya, untuk memasukkan dirinya ke dalam daftar temannya.

Kana kembali ke home page-nya untuk memeriksa, siapa yang telah mengirim email kepadanya. Ada 3 pesan. Dua pesan berantai yang tidak penting dan satu dari Damar. Kana membuka pesan dari Damar. Isinya hanya satu kalimat pendek.

Hai, boleh kenalan nggak? Mata kamu bagus…

Kana mencibir. “Standar banget!” Rutuknya dalam hati. Tapi tak urung pesan itu dibalas juga dengan tak kalah singkatnya.

Boleh.

Kana menekan pilihan ‘send’.

Dua tahun yang lalu. Dua tahun yang singkat. Ada masa-masa di mana Kana tak pernah merespon SMS, email ataupun ajakan chatting Damar. Kana sibuk tenggelam dalam pekerjaannya untuk melarikan diri dari konflik pribadi dengan suaminya. Kana sedikit malas berhubungan lagi dengan Damar karena laki-laki itu dianggapnya ingkar janji ketika mereka akan bertemu. Kana hanya menagih janji Damar untuk meminjamkan bukunya. Tapi Damar tak datang. Katanya ia sakit, maka tak bisa datang. Kana kecewa, tapi tak bisa memaksa kalau memang Damar sakit. Setelah itu, Kana menghapus nama Damar dari daftar teman chatting di messenger-nya dan menghapus nomor telepon laki-laki itu dari daftar kontak di telepon genggamnya. “Buang jauh-jauh semua yang menyakiti dan mengecewakan kita.” Begitu pikir Kana saat itu.

Sampai pada satu titik, ketika namanya mulai terlupakan, Damar kembali menghubunginya.

Tuesday, 23 May, 2006 6:43 PM
Subject: how are you?
Message:
hi pa kabar nich? sehat keluarga? koq ga da beritanya? masih gawe di hotel bu? kapan chat lagi

Kana terkejut membaca surat elektronik yang masuk. Ia lupa menghapus Damar dari daftar temannya di web site. Bu. Damar sering sekali memanggilnya dengan sebutan ‘bu’, membuat Kana merasa jadi sangat jauh lebih tua dari Damar. Dan deretan pertanyaan itu seperti interogasi saja. Tak ada cerita tentang dirinya sendiri. Tak ada sedikit jejak soal ke mana saja laki-laki itu pergi selama ini. “So typical of him.”, pikir Kana. Lalu ia menekan pilihan “Reply”

Tuesday, 23 May, 2006 6:43 PM
Subject: Re: how are you?
Message:
Kabar baik. Sorry aku sibuk banget di kerjaan. Kamu juga sibuk banget ya? masih di sukabumi? Eh, ntar kalo aku mau bikin acara buat hari AIDS, bantuin ya… Nomer HP kamu berapa sih?

Kana menekan pilihan “Send”

Dua hari sudah berlalu ketika Kana tiba-tiba melihat indikator New Messages di komputernya. Dibukanya kotak masuk. Damar. Lagi.


Thursday, 25 May, 2006 9:37 AM
Subject: Re: how are you?
Message:
ga juga sich..baru aja pindahan dari sukabumi sekarang gw di promote jadi program manager harm reduction.. ok boleh gw mo bantu koq..
dah lupa ya non hp gw???? 08562193767Gmn anak lu sehat2? hp lu berapa? thanks..Best regards damar

HP lu berapa? Kana tersenyum. HP-ku ada dua. Gumamnya dalam hati. Kana mencatat nomor telepon genggam Damar, setelah itu Kana kembali tenggelam dalam pekerjaannya dan lupa membalas email Damar.

Tiga hari setelah itu, Kana mendapat pesan. Mantan suaminya, yang kabarnya belakangan ini sakit-sakitan, mengirim SMS. Isinya singkat saja. Kana dan anaknya diminta melakukan tes HIV, karena Adi, mantan suami Kana, positif mengidap HIV. Kana geram. Sebelum mereka menikah, Kana sudah pernah menanyakan pada Adi apakah ia sudah pernah menjalani tes HIV. Adi menyatakan dirinya negatif, tapi ia tidak bisa memperlihatkan hasil tesnya. “Hilang”, hanya begitu alasannya. Dan Kana percaya. Kana menanggapi SMS itu dengan dingin, namun otaknya berputar dengan cepat. Kana segera mengatur jadual tes untuk ia dan anaknya di sebuah rumah sakit. Dua hari kemudian Kana menghadapi kenyataan bahwa dirinya juga positif. Anehnya, Kana tak merasa galau. Mungkin ia terlalu lega karena anaknya negatif. Kana memendam semuanya sendiri. Hal berikutnya yang ia lakukan adalah mengirim SMS kepada Adi untuk memberitahukan hasilnya, dan meminta Adi menjauhi dirinya, anaknya dan rumahnya. Kana benar-benar tak mau ada urusan lagi dengan laki-laki itu.

Akhirnya Kana memang memutuskan untuk memberitahu fakta tersebut kepada beberapa orang sahabat terdekatnya. Mereka semua tercengang melihat ekspresi Kana yang dingin saat bercerita. Seolah-olah apa yang menimpanya adalah sesuatu yang sangat biasa. Tak ada yang tahu, betapa hati Kana koyak. Namun ia merasa, kemarahan bukan lah penyelesaian.

Hampir satu bulan kemudian Kana mendapati nama Damar di kotak surat elektroniknya lagi. Kana merasa sedikit excited membaca nama Damar pada kolom pengirim. Kana tahu, tak akan ada cerita. Hanya akan ada pertanyaan-pertanyaan saja. Damar tidak pernah bercerita panjang lebar dalam email-nya. Semua selalu pendek-pendek dan terdiri dari beberapa pertanyaan saja. Sedikit membosankan. Tapi Kana ingat, saat mereka chatting, Damar sering bercerita macam-macam. Hanya saja semuanya berkisar pada urusan adiksi. Mereka melewati perdebatan soal adiksi. Damar mengatakan adiksi adalah penyakit. Kana tidak setuju, menurutnya adiksi adalah termasuk masalah manajemen behaviour. Damar mengatakan bahwa adiksi itu genetis, ada faktor bawaan. Kana tidak setuju, karena Kana tidak pernah merasa kecanduan atas benda apa pun kecuali rokok dan teh botol. Damar mengatakan bahwa sekali jadi pecandu, maka seseorang akan terus jadi pecandu seumur hidupnya. Kana tidak setuju, menurutnya kecanduan bisa dihentikan dan tidak berlangsung seumur hidup. Banyak sekali hal yang mereka perdebatkan di jalur chatting. Tapi itu tak berlangsung lama. Kana sedikit demi sedikit mulai mengurangi frekuensi chatting-nya dengan Damar. Sering Kana tidak membalas sapaan Damar di jalur chatting. Dan finalnya adalah Kana menghapus nama Damar begitu saja dari daftar teman chatting di messenger-nya.

Wednesday, 14 June, 2006 3:34 PM
Subject: apa kabar?
Message:
hey gimana nich kabarnya???? btw no hp lo dah ganti ya??? no yg sekarang berapa?? lu sehat2 aja??? regards damar

Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Kana karena tak membalas email sebelumnya. Maka ia segera menekan pilihan “Reply”. Kana memutuskan untuk menceritakan keadaannya pada Damar. Entah kenapa, ia sendiri tak tahu. Ia hanya merasa Damar orang yang tepat. Itu saja. Padahal Kana belum pernah bertemu dengan Damar. Rencana mereka untuk bertemu telah gagal dua tahun yang lalu, dan setelah itu mereka hilang kontak sampai bulan lalu Damar mengiriminya email. Kana hanya mengikuti intuisinya saja. Damar mungkin orang yang tepat untuk diajak berbagi dalam urusan ini. Mungkin.


Wednesday, 14 June, 2006 3:34 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Kabar nggak terlalu baik, aku positif kena HIV, ketularan mantan suamiku. alhamdulillah anakku negatif. Hp-ku 0811223322. kabar kamu sendiri gimana?

Kana menekan pilihan “Send”. Hatinya sedikit bimbang. Kana tidak tahu apakah tindakannya bercerita pada Damar adalah hal yang tepat atau bukan. Tapi yang jelas, Kana merasakan ada sedikit kelegaan menyeruak di antara bilah-bilah hatinya yang sedang gelisah. Satu beban setidaknya telah mulai terlepas. Itu baik untuknya. “There’s no turning back” batin Kana. Email itu telah terkirim dan tidak bisa dibatalkan.

Esoknya, Kana mendapati jawaban dari Damar telah bertengger di kotak masuknya. Dan ketika pesan itu dibacanya, seperti biasa, tidak semua pertanyaannya dijawab oleh Damar. Laki-laki itu malah balik bertanya padanya.


Thursday, 15 June, 2006 12:34 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Mantan??? Lu cerai??? Kapan??? why????Lu ga sendirian koq....alhamdullilah anak lo ga pa2....tapi lo juga ga pa2 koq asal terus jaga kesehatan dan check ur condition...kalo mo share lu bisa telp gw koq..anytime...lu punya komunitas kalo mo gabung... Regards damar

Kana menghela nafas. Ia tahu, ia tidak sendirian. Tapi ia tak ingin bertemu dengan orang-orang yang notabene senasib dengannya. Belum ingin. Mungkin suatu saat nanti ia mau. Kana sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, saat ini ia tidak ingin bertemu dengan orang-orang itu. Baginya tak ada gunanya bertemu dengan mereka, “Paling-paling cuma sekumpulan orang depresi doang…” batin Kana dalam hati. Kana memutuskan untuk membalas surat elektronik Damar.


Thursday, 15 June, 2006 1:15 PM
Subject: Re: apa kabar
Message:
Iya, aku udah setaun yang lalu cerai. Nggak cocok lah. Biarin aja. Aku rasa ini yang terbaik buat semua. Tapi sekarang aku udah punya cowok lagi sih…. Mudah-mudahan cocok. Hehehehehe….

Kana menekan pilihan “Send”.

Esoknya Kana kembali mendapati balasan dari Damar sudah menduduki peringkat teratas di kotak masuknya. Pesan itu ditulis pada malam sebelumnya.


Thursday, 15 June, 2006 7:46 PM
Subject: Re: apa kabar?
Message:
Cepet bgt dapet gebetan barunya hehehehehehehe baru juga mo daftar wuakakakakakakakakak.......... ya udah enjoy ur life..... regards damar

Kana tersenyum sendiri membaca pesan dari Damar. Baru juga mau daftar. “Memangnya dia pikir aku buka praktek, sampai harus daftar segala!” ujar Kana dalam hati.

Dua tahun lebih sudah berlalu. Dua tahun sejak email pertama yang dikirimkan Damar padanya. Dan sekarang laki-laki itu terbaring lelap di sampingnya. Kana tak pernah berpikir bahwa akhirnya ia akan berbagi tempat tidur dengan Damar.


Buih air laut yang menyapa ujung jari kakinya menyadarkan Kana dari lamunannya. Entah sudah berapa lama ia berdiri tertegun di pantai itu sendirian. Mungkin sudah cukup lama. Kana memutuskan untuk meneruskan perjalanannya menyusuri pasir di pantai itu. Sendiri. Kana berjalan sedikit bergegas. Ia ingin segera tiba di hotel untuk beristirahat sejenak. Menjelang senja nanti Kana berencana untuk pergi lagi ke pantai sendirian. Menikmati senja terakhir di Bali. Sendirian.
Setelah beristirahat selama beberapa jam, Kana memutuskan untuk kembali pergi ke pantai. Senja di pantai Kuta tak sama rasanya karena tak ada Damar. Keindahannya seolah berkurang. Tak terasa magis. Begitu hampa. Kana berusaha menikmati sebisanya. Namun sudah terlambat, karena ia tak lagi bisa merasakan keindahan senja itu sendirian sekarang. Segalanya terasa tak sempurna. Kana bahkan tak mau mendekat pada pasir dan pantai. Kana hanya duduk di teras Circle K sambil menikmati segelas Ice Capuccino yang rasanya tidak enak. Kana merasa hatinya pasti akan robek jika ia mendekat pada pasir dan pantai seperti kemarin. Kana tak mau menangis sendirian di tepi laut yang ramai. Maka ia memilih comfort zone yang cukup jauh dari pantai, namun tetap bisa menikmati matahari yang tenggelam dan langit sore yang berwarna jingga semu ungu.

Menjelang malam, Kana pergi ke Starbucks Coffee untuk segelas Iced Grande Hazelnut Latte kesukaannya. Ia merasa harus membayar rasa Ice Capuccino yang tidak enak sore tadi dengan segelas kopi dingin yang memang benar-benar layak untuk dinikmati. Untung kedai kopi itu terletak di seberang hotel tempat ia menginap. Tepat bersebelahan dengan sebuah diskotik dan kafe yang mengusung musik-musik berirama reggae. Suasana memang gaduh, namun Kana merasa nyaman. Kana memang suka memperhatikan sekelilingnya. Di mana pun ia berada.

Kana mengamati orang yang lalu lalang di jalan yang sudah mulai ramai. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Klab-klab dan kafe-kafe sudah mulai ramai dikunjungi orang. Musik yang berdentam dari Bounty meretas malam. Kana berhenti menulis sejenak untuk menyalakan rokoknya. Rasa sepi tiba-tiba menyusupi relung hatinya menggantikan rasa nyaman yang sebelumnya bersarang. Di tengah hingar-bingar musik yang dimainkan dan di tengah ramainya orang yang mulai mencari hiburan malam, Kana merasa sendirian. Ia memang sendirian. Kana rindu pada Damar. Kana memutuskan untuk berhenti menulis. Selain baterai laptop-nya sudah hampir habis, menulis dalam keadaan rindu tidak akan menghasilkan tulisan yang bagus. Itu menurut Kana. Maka Kana beralih pada bukunya. Namun membaca dalam keadaan seperti itu juga membuat Kana tidak dapat fokus pada apa yang dibacanya. Akhirnya Kana menutup bukunya dan mulai menikmati kopinya sambil merokok dan memperhatikan jalan di hadapannya.

Kana ingin malam cepat berlalu agar esok segera tiba dan ia bisa segera terbang pulang. Bertemu lagi dengan Damar. Kana merasakan waktu berjalan sangat lambat. Ia menangis dalam hati karena merasa jiwanya begitu kosong. “Hold it Kana. Just one more day… it’s not even a day, just a few hours more…” Kana mencoba menghibur dirinya sendiri. Namun tak urung Kana merasakan bola matanya menghangat. Kana merasakan kehampaan bercampur rasa takut mulai mengisi hatinya. Takut ia terlalu tergantung pada Damar. Takut ia tak bisa berdiri sendiri jika Damar tak ada. Takut ditinggalkan. Takut. Takut. Takut. Dan takut.

Kana tidak tahu, kapan rasa takut itu sebenarnya mulai muncul. Ia hanya baru sadar saat itu. Kana merasa sangat lemah. Dan ia tidak terlalu suka dengan rasa itu. Dulu, Kana selalu sendiri. Ia berteman baik dengan rasa sepi dan kesendirian. Ia selalu bisa menikmati momen-momen kesendiriannya. Namun sekarang Kana merasa sulit sekali untuk bersahabat dengan kesendirian dan rasa sepi. Entah kenapa. Mungkin karena sekian lama ia selalu memiliki Damar yang dengan setia menemaninya. Damar yang selalu mau mendengarkan keluh kesahnya. Damar yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Tatapan yang kadang membuat Kana salah tingkah.

Akhirnya hari itu datang juga. Hari Minggu. Hari di mana Kana akan terbang pulang menemui Damar. Kana mengamati landasan pacu yang berbatasan dengan laut dari jendela Smoking Lounge Ngurah Rai International Airport yang terletak di lantai dua. Pemandangan itu tak setiap hari bisa ditemuinya. Kana senang melihat pesawat-pesawat yang bergantian mendarat dan lepas landas. Sepertinya ia merasa akan selalu rindu pada pulau itu. Entah kapan ia akan bisa kembali lagi. Dengan Damar tentunya. Menunggu sendirian bukanlah sesuatu yang terlalu menyenangkan untuk dilakukan, namun Kana tak punya pilihan lain. Ia harus sendiri sampai tiba di Bandung nanti.

Setelah hampir satu jam terlambat, akhirnya Kana naik juga ke pesawat yang akan membawanya pulang. Tempat duduknya tepat di pinggir jendela. Dari situ Kana bisa melihat laut yang menjauh ketika pesawat mulai bergerak. Potongan percakapannya dengan Damar berkelebat di kepala Kana.

“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? Seberapa besar?”
Kana menghela nafas dan berpikir, “Aku nggak mau menukar tempatku saat ini dengan siapapun.”
Damar tersenyum.
“Do you love me…?”
“I do…”
“Really…? How much?”
Ganti Damar yang menghela nafas, “Kalau ada laki-laki lain yang minta tukar tempat sama aku, pasti bakal aku gebuki!”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Mau cari orang lain?”
Kana menggeleng.
“Tambatan terakhir?”
Kana mengangguk.

Kana memasang kaca mata hitamnya dan memandang landasan pacu yang terlihat seolah menjauh. Saat pesawat terasa terangkat, Kana melempar pandangan terakhirnya ke luar. Ke laut dan pantai yang semakin jauh.

“Damar…. Aku pulang….”


Some people want it all, but I just don’t want it at all
if I ain’t got you, baby…
Some people want diamond ring, some just want everything
Everything means nothing if I ain’t got you…

[If I ain’t got you – Alicia Keys]


- Una Partum Finite Incantotum -

Wednesday, November 22, 2006

Outside the rain begins, and the dusk is getting older as the day grows darker. She sits at the roof top, letting herself drawn in the cool and rainy weather. Under the orange sky of the city. She wipes her tears in despair. Her wish is nothing but a simple thing. But it is too simple that it seems to be impossible to come true. Sometimes complicated things are more likely to come true. She only wants to have someone by her side. She is drawn in her own desperacy. Her life seems to be ended very soon, but still there is no words.

She has made up her mind. She will be no longer waiting in vain and despair. She sees no future anymore. Not for her. Not for him. Not for them together. So, when the pain is getting worse, that is the right time to let go. Because she believes that letting go is the only way out for the situation.

The sky above her is glistening. The rain apparently had stopped a minute before. But the mist of it still lingers around her, gave her a gentle wet touch. She feels her heart beats slower. Beats in vain, for she has no one to come home to. No one to turn herself to. Worthless, is the word that she has been telling herself lately. Worthless and unwanted. It has been several times she tried to convinced herself that someone out there might be her knight in shining armour, but later on, she never find anybody would come closer.

Monday, November 20, 2006

Dusk in Kuta, 17 November 2006

It is the bonus of the hard work. Finally, a time on our own. We went out to Kuta beach this late afternoon to catch the sight of sunset. How I long to see the sunset on the beach, any beach! So, we strolled along the Legian street up to the beach and found the perfect spot to wait for the sun to set. This is my dream. Sitting on the beach sand with him by my side, watching the beautiful sun sets, surrounded by a magnificient orange coloured sky. It’s a simple thing that I can’t get everyday. My wish is granted today. So, I really treasure the moments with him. Feel myself in his arm, let the sea breeze play with my hair and smell the salty air around me.

I’m so happy to have his companion today…

I packed my simple dreams along with me when I flew from Bandung. I just want a day with him at the beach, sitting and talking about many things while watching the sun set. I don’t need other things. Just that one. A simple romantic dream that finally come true.

It’s a joyful moments to see his glistening face is full of smile. He seems to be happy sitting close to me, and so do I. We never know when we will have a chance to do it once again. Too bad he has to leave tomorrow. So, it’s really the answer to my pray. I ask for a day with him at the beach, that’s what I got. I’m very grateful that I still have the chance. I’m sure we will come together again some other time.

Black Canyon Coffee, 18 November 2006

I dropped him at the airport and bid him goodbye. I went to the Discovery Mall and had my hair done there. Afterwards, I went to have some coffee and salad at the Black Canyon Coffee.

I’m sitting all alone at the terrace, looking out to the beautiful scenery of Kuta beach. It’s rather quiet at this hour. The sea breeze kissed me. The back sound music is depressing and makes me wishing so hard that he’s here with me right this very moment. I used to enjoy myself for being alone, but it’s like centuries a go. I feel like déjà vu, finding myself sitting alone with a cup of coffee and a book in my hand.

After an hour or so, I decided to stroll along the sandy beach to the Poppies Lane to find some nice sarongs that I saw yesterday. It’s somehow nice to stroll along the quiet beach alone. It feels free. I’m a solitaire. Yes, I miss him so much. Yes, I wish him to be here next to me. But walking alone under the friendly sky, feeling the wind blows over my hair is also nice, especially when the beach is not too crowded yet.

Looking out to the sea, suddenly I feel so vulnerable and fragile. I need him so bad. I need his arms around me because that’s the only way that I could feel safe.

Monday, November 13, 2006

Thought of three of you when I read this:

"Courage, it would seem, is nothing less than the power to overcome danger, misfortune, fear, injustice, while continuing to affirm inwardly that life with all its sorrows is good;
that everything is meaningful even if in a sense beyond our understanding;
and that there is always tomorrow."
(Dorothy Thompson)


Read it over and over again... The meaning is so strong... Just like us... hehehe...
-- Frika Chia
Low motivations....