Sunday, June 04, 2006

SEBUAH AKHIR YANG MANIS
Setelah berminggu-minggu aku lewati sendiri, penuh dengan kekalutan, ketakutan dan kegelisahan. Penuh dengan harapan-harapan yang tak menjelma jadi nyata, akhirnya ketenangan itu datang juga. Ia datang mengendap-endap kala gundah sedang melanda jiwaku. Dia datang begitu saja. Tiba-tiba. Menyusupkan kepasrahan di sela-sela hatiku dan membuatku tenang. Ternyata ketenangan itu harus aku ciptakan sendiri. Sia-sia aku mengharap dirinya memberikan ketenangan itu untukku, karena ia selalu memilih jalan yang lain. Selalu memilih jalan untuk menyakitiku.

Di tengah malam yang sunyi, hatiku berbisik padaku untuk melepaskan semuanya. Merelakan dirinya mengarungi samudra semu dan meneruskan pencariannya yang abadi. Tak perlu lagi aku menunggu setiap hari, karena ia hanya hanya akan pulang di saat hati kecilnya menyuruhnya untuk pulang. Tidak karena aku yang menghiba di sudut kakinya. Tidak pula karena aku, dengan segenap hati yang sudah rombeng, mengemis belas kasihnya. Tak perlu lagi aku merendahkan martabatku padanya. Berbesar hati dan berlapang jiwa dengan membiarkannya meneruskan pencariannya adalah jalan terbaik bagiku saat ini. Pencarian itu tak akan pernah ada akhirnya. Dan tak ada gunanya aku terus mempertanyakan kepulangannya. Tak pula ada gunanya aku terus mengujinya dengan berbagai pilihan, karena ia tetap akan memilih apa yang sesuai dengan keinginannya. Tak peduli aku, sekarat, hampir mati di sini karena membutuhkannya. To love is to let go. If you really love someone, you have to set him free…

Jangan lagi melihat ke masa lalu! Jangan ingat-ingat lagi semua janjinya padamu! Jangan kau menuntut kata-katanya padamu dahulu! Ia bukan lah yang dulu, maka sebaiknya aku memang menutup buku ini, dan menggantinya dengan yang baru. Agar tenang batin ini menjalani sisa waktu yang tak banyak. Jika suatu hari nanti penyesalan menggantung di langit jiwanya, biarlah ia rasakan itu sebagai jawaban atas kepergiannya saat ini.

Matahari memang tak lagi terbit di langitku, namun masih ada bulan yang sinarnya setia menemani aku melewati malam-malamku yang sunyi. Menemani kesendirianku meniti waktu. Menghadirkan senyum di wajahku. Membawakan burung malam untuk menyanyikan kidung-kidung lara yang mendayu-dayu. Aku tahu, jiwanya menemaniku dari jauh. Meski bukan itu yang aku butuhkan saat ini, namun cukup lah untukku mengetahui ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tak bisa aku lafalkan dalam logikaku. Tapi bukankah setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mencintai…?

Aku mencintainya, maka aku merelakannya…
Suatu hari cinta dan nuraninya akan menuntunku kembali padanya...

No comments: