Thursday, May 03, 2012

Tak Pernah Ada Kematian #6


Malam mulai beranjak turun. Aku dan dia masih bersama di rooftop ini. Aku menghembuskan kepul-kepul terakhir dari batang berasapku. Dia? Bergerak kian kemari dalam resah dan kemarahan. Ah... pendatang baru memang selalu penuh kemarahan... Aku memandang lurus ke arah purnama, sementara dia melontarkan caci makinya... Entah kepada siapa. Mungkin kepadaku. Mungkin kepada dirinya sendiri. Mungkin kepada orang yang telah menyebabkannya berada di sini. Entah. Aku tak tahu... Aku tak peduli. Itu bukan urusanku.

"Hey! Kamu!" tiba-tiba laki-laki itu bersuara. Aku menoleh.
"Ya?" jawabku acuh tak acuh.
"Baiklah... Aku percaya padamu sekarang!" katanya lagi.
"Sudah seharusnya..." Jawabku lagi.
"Tapi aku tak suka di sini!" katanya lagi sambil mengepalkan tangannya. Aku tertawa kecil.
"Kamu tidak punya pilihan lain... Terima saja!" Aku mengeluarkan sebatang rokok lagi.
"Aku tidak sudi terjebak dalam keabadian bersamamu! Aku tidak sudi!!!" murkanya menggema di langit. Aku tetap duduk memandang purnama.
"Kamu, laki-laki bodoh yang keras kepala!" akhirnya aku menjawab dalam tawa yang nyinyir dan penuh kepahitan.
"Aaaaahhhhhhhh.....!!!!! Jangan tertawakan aku!!! Aku benci kamu, orang asing!!! Aku akan pergi sendiri!!" jeritnya menggema di sudut malam. Lalu dia berlalu cepat. Aku? Diam saja sambil menyalakan rokokku. Dia tak akan pergi jauh. Tak akan juga pergi lama-lama, karena dia tidak akan bisa sendiri tanpaku.

Kematian hanya ilusi. Mengapa begitu sulit dia mengerti? Sudah jelas dia mengalaminya sendiri, tapi tetap tak mau mengerti. Dia kira siapa dia? Bukan dia yang mengatur semua ini! Marah padaku? Biar saja. Bukan aku pula yang mengatur semuanya. Aku hanya penjaganya. Aku juga tak punya pilihan. Dia kira aku mau menjaganya? Cih! Dia tak pernah tahu bahwa aku menolak mentah-mentah ketika harus menjemput jiwanya yang berantakan dari jasad yang beku. Namun seperti halnya dia, aku tidak punya pilihan. Tak peduli berapa kali aku menghantamkan diri ke dinding langit, perintah itu masuk ke dalam pikiranku dan menyuruhku untuk menunggunya. Jiwa lusuh yang marah, yang bangkit dari jasad yang bersemu merah oleh darah.

Di kejauhan aku masih bisa mendengar sumpah serapahnya. Ah... pendatang baru... Mereka semua sama. Selalu merasa tertipu. Selalu merasa dimanipulasi. Mereka tak sadar bahwa mereka lah yang selalu memanipulasi kematian di kehidupan mereka. Mengumbar cerita tentang terhentinya semua masalah. Tapi sungguh, apa yang mereka tahu sebelum mereka mengalami? Tak ada... Dalam kemarahan mereka selalu pergi meninggalkan penjaga yang menjemput mereka. Laki-laki ini pun begitu. Sayang, dia tak sadar bahwa tanpaku dia hanya akan berjalan dalam lingkaran tanpa akhir. Pergi menjauh, lalu menjauh untuk kemudian muncul lagi di hadapanku.

Tujuh tahun yang lalu aku menjemput jiwa laki-laki yang tersesat itu.Setiap hari dia pergi meninggalkanku dengan sumpah serapahnya... hanya untuk akhirnya kembali padaku di atap gedung ini. Tak ada kematian untuknya. Tak ada pilihan untuknya. Tak ada jalan lain untuknya selain berputar dalam lingkaran dan akhirnya kembali padaku. Sudah tujuh tahun dia melakukannya... dan dia belum juga mengerti... bahwa tak pernah ada kematian... Kematian hanya ilusi. Jiwanya yang lusuh terjebak dalam keabadian bersamaku. Selamanya... dan itu bukanlah pilihan....


--- TAMAT ---

Saturday, April 07, 2012

Tak Pernah Ada Kematian #4

Sambungan dari Tak Pernah Ada Kematian #3 | "Danu Saputra"


Ketika jiwa yang resah itu bangkit dari raga yang hancur dalam kebingungan, aku mengulurkan tanganku. Dia menyambutnya, tapi dengan marah.

"Di mana aku? Mengapa aku masih hidup?" tanyanya gusar.
"Kamu? Ini keabadian... Kamu terjebak bersamaku di sini..." ujarku.
"Selamanya...?" tanyanya lagi.
"Selamanya..." jawabku enteng.
Dia mendengus kesal... "Aku ingin mati!!!" jeritnya.

Aku tertawa kecil, "Mati? Mati katamu??? Hah! Kematian itu hanya ilusi!"
Dia menatapku dengan pandangan nyalang yang membakar jiwaku yang lusuh. "Kamu bohong! Aku harus mencoba lagi. Kali ini dari gedung yang jauh lebih tinggi!" ujarnya sambil menepis genggaman tanganku. 

Aku menarik tangannya, "Dengarkan aku. Lihat ke bawah sana... Apa yang kau lihat?" kataku sambil menunjuk jasad yang hancur dan dikerubuti orang.

Dia melongokkan kepalanya ke bawah, "Mayat. Itu mayat!" jawabnya.
"Ya! Itu mayatmu, bodoh!" seruku dengan kesal. Dia mendongakkan kepalanya lalu memandang berkeliling. Menengok kakinya dan kakiku yang tak menapak. Menghayati eksistensi kami yang melayang di tengah-tengah antara bumi dan langit. "Mayatku???" tanyanya dengan binar aneh di matanya.
"Ya. Mayatmu. Kamu datang dari situ. Jelas?" jawabku, "Tubuhmu sudah hancur tak berbentuk. Kamu sudah tinggal nama. Itu pun jika ada yang ingat padamu." lanjutku sambil menarik tangannya menuju rooftop gedung.

"Jadi... Aku sudah mati? Begitu 'kan? Aku sudah mati!" ujarnya sambil mengguncang bahuku. Aku menepis guncangannya, "Dasar laki-laki bodoh! Sudah aku bilang kematian hanya ilusi...." gumamku sambil menyalakan sebatang rokok.

Dia duduk di sampingku. Bersama kami memandang horizon langit senja yang menjingga bersemu merah. Pekat seperti darahnya yang mengalir keluar dari jasad beku di bawah sana...

"Sekarang apa....?" tanyanya.
"Sekarang?" aku menghembuskan asap rokokku, "Kita terjebak dalam keabadian.... Bersama. Selamanya." jawabku ringan.
Dia? Mendengus keras, "Kamu penipu! Aku benci kamu!"

Aku merengkuh pundaknya dan berbisik di telinganya, "Sekarang kamu tahu... Tak pernah ada kematian... Tidak pernah!"


Monday, April 02, 2012

Tak Pernah Ada Kematian #2

Sambungan dari Tak Pernah Ada Kematian #1 | "Danu Saputra"

Tujuh tahun lalu berulang kali aku melihatnya ingin mencoba untuk sampai kemari. Ke tempat yang tak mungkin terjangkau raga yang penuh. Aku melihatnya mencoba untuk melepaskan jiwanya dari raga yang lelah. Aku menjerit di pelataran langit ketika tubuh itu melayang jatuh dari ketinggian. Jerit yang tak akan pernah didengarnya karena dimensi yang berbeda.

Aku tak kenal laki-laki itu, tapi aku bisa melihat kelelahan mendalam di wajahnya. Entah apa yang membuatnya begitu ingin melepaskan hidup. Cinta? Desperasi? Kebodohan? Aku tak tahu... Yang aku tahu hanya satu, bahwa ia telah tertipu oleh kematian... Ia pikir kematian akan mengakhiri hidupnya, padahal tidak! Dan aku melihat jiwanya menerobos keluar dari raga yang hancur. Seperti aku dulu.... Ia terlihat kesal. Merasa ditipu karena kehidupan lain telah menunggunya. Dan kali ini akan ada keabadian dipenuhi dengan kebosanan.

Tujuh tahun lalu, jiwa laki-laki itu menatap ke arahku dengan pandangan bingung bercampur marah. Aku mengulurkan tanganku padanya, ia menyambutnya... "Nah... sekarang kau terperangkap denganku dalam keabadian.... Tak bisa lari kemana pun..."



.............